Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Lebih Banyak Waktu Bersama Keluarga

anggri-Radar Tarakan • 2019-01-14 11:17:43

Hingga kini jasa transportasi berbasis aplikasi atau online masih menjadi primadona di masyarakat dalam bepergian di seputaran kota. Namun, kehadiran transportasi berbasis online kerap dianggap sebagai ancaman bagi jasa tranportasi konvensional atau ojek pangkalan (opal).

 

AGUS DIAN ZAKARIA

 

JASA transportasi online semakin berkembang. Kementerian Perhubungan (Menhub) bahkan tengah menggodok aturan terkait ojek online (ojol). Ojol diterima, dua kata yang lekat diasosiasikan pada profesi tersebut, yakni murah dan mudah.

Jika stigma sebagai pekerjaan sampingan dialamatkan kepada para driver-nya, tidak halnya bagi Wahyudi (45). Pria yang sempat berprofesi sebagai pria kantoran dan buruh pabrik di salah satu perusahaan kayu ternama di Kota Tarakan ini rela meninggalkan pekerjaannya demi menekuni pekerjaan sebagai driver ojol.

Baginya, pekerjaan bukanlah hanya soal nilai rupiah, melainkan kebahagiaan dan ketenangan.

 

Sudah setahun Wahyudi menjalani profesinya sebagai driver ojol. Meski memiliki penghasilan tidak seberapa, namun ia mengaku kebutuhan keluarganya setiap bulan selalu tercukupi.

Menurutnya penghasilan kecil dari menjadi driver ojol membuat kehidupan keluarganya bahagia. "Alhamdulillah kebutuhan setiap bulan cukup, walau kecil mungkin karena berkah jadi tidak pernah merasa kekurangan," tuturnya, Kamis (10/1).

Selain karena menikmati sistem pekerjaannya, alasan lain yang membuat ia memilih menjadi ojol dikarenakan dapat meluangkan banyak waktu bersama keluarga. Sehingga menurutnya, kapan pun dan di mana pun, ia bisa kapan saja pulang menemui keluarga.

"Alhamdulillah dari istri saya kalau ditelepon pulang, kalau ada pelanggan bisa keluar sebentar mengantar. Kalau kerja di pabrik atau kantoran kan kita tidak bisa pulang sebelum waktu pulang dan kita diatur waktu. Kalau nge-grab ini kita punya banyak waktu untuk keluarga, kita yang atur waktu kita sendiri," jelasnya.

Meski akhir-akhir ini ojol kerap menghadapi pertentangan dari beberapa kalangan, namun menurutnya hal tersebut merupakan hal wajar. Meski demikian, menurutnya selama ia melakukan pekerjaan halal maka ia tidak pernah takut menghadapi situasi apa pun.

"Alhamdulillah Kalau diadang tidak pernah. Cuma pernah ketemu tapi mereka menjelaskan kalau mereka tidak suka keberadaan kami di area itu, cuma mereka ngasih tahu baik-baik. Tapi saya juga biasanya tidak bisa langsung terima. Kami ada debat sedikit lah. Saya jelaskan kalau ini sudah eranya teknologi dan cepat atau lambat masyarakat pasti menginginkan pelayanan yang mudah dan murah," tuturnya.

Adanya penolakan di beberapa wilayah terhadap kehadiran pasukan hijau hitam berhelm tersebut, menurutnya sah-sah saja. Sebagai driver ojol yang berjiwa besar ia dan rekan-rekannya menghargai adanya aturan tersebut.

Namun, sebagai sesama manusia yang sama-sama membutuhkan makan berharap kalangan tertentu juga harus menghargai keberadaan driver ojol.

"Ada banyak area (dilarang) selain Beringin, ada Malundung, SDF dan Bandara Juwata. Bukan dilarang sebenarnya, cuma kami yang menghargai mereka dan kami harap mereka juga menghargai kami,” sebutnya.

“Selama ini kami merasa tidak dihargai melalui cara-cara mereka misalnya yang di SDF, kan kami dilarang jemput di dalam nih, jadi sering penumpang itu jalan kaki keluar terus pesan Grab. Pas kami jemput eh ojek konvensional menegur. Padahal kami hargai mereka sudah tidak menjemput di dalam tapi begitu jemput di luar kawasan SDF kami ditegur juga. Itu yang kadang kami berpikir mereka ini maunya apa," sambung Wahyudi.

Menurutnya keributan yang terjadi akan merugikan masyarakat, karena menurutnya selama ini aturan pelarangan tersebut tidaklah pernah ada, namun aturan tersebut hanya atas inisiatif kalangan tertentu. Walau begitu ia dan rekannya dapat memahami.

"Tapi kemarin karena ada keributan akhirnya pengelola SDF membolehkan kami mengambil penumpang di luar. Kami berharap teman-teman konvensional itu mau bergabung bersama kami, jadi mereka bisa 2 pendapatan. Bisa di pangkalan, bisa nge-grab juga. Kalau mau mangkal bisa nongkrong di pangkalan, tinggal matikan aplikasi. Kalau mau nyari order tinggal nyalakan aplikasi saja," ujarnya.

Sebagai seorang yang berani mengambil langkah untuk keluar dari dunia lama untuk menekuni ojol, ia berharap kepada semua kalangan dapat berpikir maju. Menurutnya cepat atau lambat jasa konvensional akan ditinggalkan di era masa depan. Sehingga ia berharap kepada semua kalangan untuk mendukung jasa transportasi online atau bahkan terlibat di dalamnya.

"Jadi kami menganggap mereka bukan saingan, cuma mereka yang merasa tersaingi dengan kehadiran kami," ujarnya. (***/lim)

 

 

Editor : anggri-Radar Tarakan
#ojek online #feature