Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Dinilai Permasalahan dan PR Bersama

anggri-Radar Tarakan • 2019-02-23 10:43:41

Pengelolaan sampah di Ibu Kota Kaltara, Tanjung Selor saat ini terbilang masih belum maksimal. Termasuk, di dalamnya terkait tingkat kesadaran masyarakat dalam kepedulian kebersihan lingkungan dari sampah.

TAK dapat dipungkiri bahwa di ibu kota hingga kini masih terdapat beberapa titik daerah penghasil sampah yang menjadi momok. Salah satunya, di Pasar Induk, Tanjung Selor yang merupakan pasar terbesar di ibu kota.

Oleh karenanya, melalui peringatanHari Peduli Sampah Nasional (HPSN)yang biasa digelar setiap tahunnya pada tanggal 21 Februari. Kemarin (22/2), tepat pukul 07.00 WITA, tampak rombongan dari TNI, Polri, SKPD, FKPD di tingkat kabupaten ataupun provinsi dan seluruh elemen masyarakat bersatu padu dalam menggelar aksi bersih-bersih di lingkungan Pasar Induk.

Diketahui, jika ditinjau lebih jauh, pertama kalinya peringatan HPSN ini dicanangkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup pada 21 Febuari 2006. Dan peringatan itu muncul atas ide dan desakan dari sejumlah pihak untuk mengenang peristiwa di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005. Sampah ternyata dapat menjadi mesin pembunuh yang merenggut nyawa lebih dari 100 jiwa.

Selanjutnya, pada peristiwa naas tersebut pun terjadi curah hujan yang tinggi dan ledakan gas metana pada tumpukan sampah. Akibatnya 157 jiwa melayang dan dua kampung hilang dari peta karena tergulung longsoran sampah yang berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah.

Aatas tragedi tersebut yang memicu dicanangkannya HPSN yang diperingati tepat di tanggal insiden. Meski, tak ditampik bahwa sampah sejatinya menjadi persoalan masyarakat global. National Geographic melaporkan masing-masing kota di dunia setidaknya menghasilkan sampah hingga 1,3 miliar ton setiap tahun. Diperkirakan oleh Bank Dunia, pada tahun 2025, jumlah ini bertambah hingga 2,2 miliar ton.

Sementara, dalam laporan sebuah penelitian yang diterbitkan di Sciencemag pada Februari 2015 menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua di dunia penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa fakta tentang sampah nasional pun sudah cukup meresahkan.

Sedangkan, menurut Riset Greeneration, organisasi nonpemerintah yang telah 10 tahun mengikuti isu sampah, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun. Di alam, kantong plastik yang tak terurai menjadi ancaman kehidupan dan ekosistem. Dan terkait persoalan sampah, Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan Indonesia akan bebas sampah pada tahun 2020. Tak terkecuali, di Ibu Kota Kaltara, Tanjung Selor yang diketahui turut serta dalam mendukung akan target tersebut.

Sebab, berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bulungan di wilayah khususnya daerah Tanjung Selor, setiap harinya telah menghasilkan 140 ton sampah. Artinya, dengan jumlah tersebut tidak ditangani dengan baik akan menjadi problematika yang berkepanjangan.

Ditemui pasca aksi bersih-bersih sampah di Pasar Induk, Tanjung Selor, Komandan Kodim (Dandim) 0903/TSR, Letkol Inf Sigid Hengki Purwanto mengungkapkan, melalui HPSN ini pihaknya mengharapkan hal ini menjadi momentum kesadaran bersama bahwa kebersihan merupakan tanggung jawab bersama.

Bahkan, menurutnya, kebersihan di lingkungan akan tercipta, jika terlebih dahulu dimulai dari pribadi masing-masing. Karena, dengan pola hidup sehat itu berbanding lurus pada lingkungan sekitar.

“Kita harus bisa memulai pada diri sendiri dahulu. Kalau kita bisa mengendalikan akan kebiasaan hidup sehat dan memperlakukan sampah sebagaimana mestinya. Maka, ini akan menjadi dampak luar biasa ke depannya bagi lingkungan ini,” ungkapnya kepada Radar Kaltara.

Lanjutnya, di Bulungan, khususnya Tanjung Selor memang produksi sampah ini terbilang tinggi. Oleh karenanya, memang butuh inovasi lebih agar sampah-sampah dapat dikelola dengan baik. Meski, sejauh ini diakui sejatinya sudah ada instansi terkait yang sudah bergerak dalam pengelolaan sampah.

“Kita tentu akan mendukung sepenuhnya dalam mewujudkan daerah ini untuk bersih dan asri. Tapi, tetap kami beri apresiasi kepada komunitas-komunitas yang turut peduli akan permasalahan sampah ini,” ujarnya.

Pihaknya berharap, melalui aksi bersih-bersih ini sehingga dapat menjadi pemicu kedepannya untuk lebih digalakkan lagi. Mengingat, sampah ini setiap harinya pasti ada. Untuk itu, perlu adanya gerakan yang konsisten agar dapat dengan benar menjadikan daerah ini bersih dari sampah. “Ini sudah menjadi langkah yang baik dan kami tentu apresiasi,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Wakapolda Kaltara, Kombes Zainal Arifin Paliwang menambahkan, terkait HPSN ini benar merupakan momen yang sepatutnya untuk diingat bersama. Karena sejatinya adanya peringatan itu lantaran pernah terjadinya tragedi nasional perkara sampah.

“Kalau saat ini sudah sekitar 13 tahun silam terjadinya tragedi itu. Untuk itulah, seluruh bangsa Indonesia patut untuk bersama – sama dalam mencegah terjadinya aksi serupa,” ungkapnya.

Dikatakannya juga, pengelolaan sampah memang sepatutnya dari hulu dan hilir harus benar diperlakukan dengan baik. Sebab, selain menjadikan daerah menjadi lebih bersih dan sehat serta bernilai. Adanya perlakuan itu tentunya menjadikan daerah aman akan tragedi belasan tahun silam di daerah lainnya itu.

“Hari peduli sampah ini memang patut untuk kita maknai dengan sebaik-baiknya. Mari, jadikan hidup ini bersih dan sehat,” ujarnya.

Apalagi, lanjutnya, sebagai generasi pemuda dan milenial ini. Yang mana, pihaknya meminta supaya dapat bersama mensukseskan Indonesia bersih di tahun 2025. Karena tanpa adanya gerakan secara bersama ini tentu akan sulit dalam mewujudkannya.

“Momentum ini, saya imbau seluruh elemen masyarakat dapat melakukan aksi nyata bersama. Itu dapat diawali dengan bergerak dari RT/RW setempat. Termasuk, perusahaan setidaknya dapat mengambil bagian ini juga,” tutupnya.

Bupati Bulungan H. Sudjati selaku pemilik wilayah ini menuturkan bahwa permasalahan sampah ini memang sepatutnya menjadi ‘PR’ bersama. Artinya, tidak pada pemerintah setempat yang menjadikan corong utama dalam mengatasi permasalahan tersebut.

“Tapi, melalui aksi ini tentu saya sangat bersyukur. Mengapa? Karena atas adanya kesatuan dalam aksi bersih-bersih sampah ini menandakan adanya suatu dukungan penuh dari semua pihak,” ungkapnya.

Disinggung terkait upaya pengelolaan sampah kedepannya? Orang nomor satu di Bulungan ini mengatakan bahwa ke depannya akan ada calon investor yang akan membantu pengelolaannya. Di mana dari sampah itu akan dijadikan tenaga listrik. Bahkan, calon investor itu yang diketahui dari PT Petra Global Energi, salah satu perusahaan swasta di bidang energi sudah ada pertemuan terhadapnya.

“Kita tunggu saja perkembangannya nanti seperti apa. Namun, tetap upaya lain akan terus kami lakukan agar pengelolaan sampah dapat terus ada,” ujarnya.

Lanjutkan, kembali kepada calon investor itu, pihaknya tentu membuka peluang asal tetap persepsi sama dalam membangun daerah. Apalagi, memang soal sampah ini yang kian bertambah. Jika pengelolaanya tidak benar akan semakin menambah beban daerah. “Kalau ada investor yang mau masuk dan membantu, kenapa tidak,” katanya.

Di sisi lain, pertimbangannya untuk disetujui investor itu tidak perlu banyak. Bahkan, dibiayai semua akan dikenakan kepada mereka (investor). 

“Kalau dari hasil pembicaraan dengan calon investor, diharapkan dari 140 ton sampah setiap ikut. Maka, akan menghasilkan energi hingga 35 MW (Megawatt),” ucapnya. “Tapi, tetap kita akan melihat perkembangannya nanti pasca kehadiran persentasi yang diajukannya itu,” sambungnya.

Sudjati dalam hal ini siap siap memfasilitasi. Penyebab, dengan kondisi saat ini di Bulungan krisis listrik. “Kita juga akan menargetkankan nol sampah di Bulungan. Maksudnya? Sampah yang bisa menghasilkan energi dari listrik itu. Dan tak seperti saat ini yang dikeluarkan hanya dibakar,” katanya.

Untuk lokasi, seperti yang ditawarkan Pemkab Bulungan yaitu tempat pembuangan sampah di KM 9, Desa Bumi Rahayu, Kecamatan Tanjung Selor. Namun, untuk proyek seperti ini masih jangka panjang. “Mudahan ini dapat terealisasi dengan baik,” harapnya. (omg/eza)

Editor : anggri-Radar Tarakan
#sampah