TANJUNG SELOR – Pelaksanaan debat piblik perdana pasangan calon (paslon) Bupati dan Wakil Bupati Bulungan tahun 2020 dinilai sudah baik. Namun, tentu ada evaluasi sebagai upaya memperbaiki pelaksanaan proses debat berikutnya.
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bulungan, Lili Suryani mengatakan, puncaknya itu ada pada debat publik ketiga di stasiun TV nasional di Jakarta pada 22 November 2020. Jika debat yang pertama dan kedua, hanya menghadirkan salah satu calon.
“Kan debat pertama itu hanya calon wakil bupati. Kemudian pada debat kedua akan dilaksanakan pada 7 November nanti, juga hanya calon bupati saja. Nah, yang ketiga itu nanti baru pasangan calon (paslon),” ujarnya kepada Radar Kaltara saat ditemui di Tanjung Selor, Minggu (1/11).
Dikatakannya, untuk debat pertama dan kedua ini, kekuatannya ada di jaringan internet yang tersedia. Karena pada prosesnya sudah diusahakan semaksimal mungkin dengan menaikkan kecepatan internet 100 Mbps, agar dapat menghasilkan tayangan yang terbaik.
“Tapi pada sesi terakhir (debat pertama) itu ada yang terputus. Ternyata setelah kita cek, memang dari Telkom yang terputus, jadi seluruhnya terganggu. Artinya, ini bukan kuasa kita,” jelasnya.
Adapun untuk materi debat perdana ini narasinya sudah cukup baik. Hanya saja, yang perlu ditampilkan pada debat berikutnya itu berupa audio visual yang belum ditampilkan pada debat perdana yang sudah dilaksanakan pada 31 Oktober 2020 itu.
Untuk memunculkan hal baru itu membutuhkan waktu. Tapi, saat ini pihaknya masih berupaya untuk dapat memunculkan hal-hal baru pada debat kedua nanti, tentunya tetap dengan catatan tidak terlepas dari konsep yang sudah ada.
“Yang terpenting itu tampilan debat kita seperti yang saya sampaikan di awal, yaitu elegan, serta saling menghargai dan menghormati,” katanya.
Sementara untuk tempat pelaksanaan debat kedua nanti, sejauh ini masih dibahas dan dipersiapkan oleh pihaknya. Pelaksanaannya tetap di Tanjung Selor, tapi ada kemungkinan akan berpindah tempat dari yang debat pertama itu.
“Tentu kita akan lebih matangkan lagi persiapannya, salah satunya kita akan mendatangkan langsung tim pakar dari luar daerah. Sebelumnya itu kita hanya virtual,” sebutnya.
Termasuk untuk moderator, pihaknya juga akan mengambil dari luar Bulungan. Sama seperti debat pertama yang telah dilakukan oleh pihaknya, yang juga memilih moderator dari luar Bulungan. “Moderator juga masih tetap dari luar. Tapi dia orang yang berbeda. Ciri-cirinya itu, dia seorang perempuan,” ungkapnya.
Alasan KPU memilih moderator dari luar Bulungan, agar bisa membawa proses debat dengan suasana yang santai. KPU menginginkan moderator bukan merupakan orang yang dikenal. (iwk/eza)
Editor : anggri-Radar Tarakan