TANJUNG SELOR – Wilayah blank spot di Kalimantan Utara (Kaltara) disinyalir masih banyak yang tidak mendapatkan perhatian. Dinas Komunikasi, Informasi, Statistik dan Persandian (DKISP) Kaltara berupaya agar wilayah blank spot bisa dipasang repeater, guna menangkap sinyal.
Jika anggaran mencukupi, DKISP Kaltara berencana untuk pengadaan Base Transceiver Station (BTS) di sejumlah titik blank spot. “Banyak wilayah blank spot, tapi keterbatasan dana dalam pengadaan BTS. Kita melihat keinginan masyarakat, namun anggaran masih minim,” terang Kepala DKISP Kaltara Ilham Zain, Selasa (11/10).
Sebagai contoh, dua titik dari Tanjung Selor menuju Tarakan, yakni Tias dan Muara Bulungan menjadi titik blank spot. Sebab perjalanan antara Tanjung Selor dan Tarakan sulit mendapatkan jaringan telekomunikasi.
“Tanjung Selor ke Tarakan setengah perjalanan blank spot dan sebaliknya. Ini juga menjadi keluhan masyarakat,” tuturnya.
Rencananya, di dua titik tersebut akan dipasang repeater. Saat ini, masih dilakukan proses lelang. Namun, kendalanya pada sertifikasi IT dari pihak yang mengikuti lelang. “Tak mudah dilakukan lelang. Apalagi harus ada sertifikat IT. Dua kali dilakukan lelang,” ungkapnya.
Diakui Ilham, anggaran untuk satu repeater kurang lebih Rp 400 juta. Jika dua repeater yang dibutuhkan, maka total anggaran Rp 800 juta. Adanya tower yang dibangun vendor pun belum bisa mengakomodir kebutuhan jaringan telekomunikasi bagi masyarakat. Diketahui ada 406 tower yang dibangun vendor. Namun seluruhnya dianggap belum tepat sasaran. (fai/uno)
Editor : izak-Indra Zakaria