"Dampak ekonomi pemasokan bahan-bahan makanan yang berasal dari Long Bawan dan Long Layu terhenti.
Sedangkan tingkat kebutuhan masyarakat di 7 desa yang terisolasi akibat longsor dan terputusnya jembatan penghubung dari ibukota kecamatan sangat tinggi," ucap Arief Budiman.
Dijelaskan, adapun kebutuhan masyarakat seperti gula, mie instan, minyak makan, teh, kopi serta bahan bakar minyak (BBM) dan lain-lain berasal dari Desa Long bawan dan Long Layu. Kemudian, dampak lainnya atas banjir bandang dan tanah longsor juga berdampak pada rusaknya areal persawahan masyarakat yang saat ini memasuki musim tanam padi.
"Pasokan air bersih terhenti akibat rusaknya jaringan instalasi air bersih akibat banjir. Berdasarkan data, masayarakat yang terdampak sebanyak 1.862 Jiwa dengan 484 kepala keluarga (KK)," sebutnya. Dari kajian tersebut, BPBD Nunukan merumuskan saran dan masukan hasil kaji cepat. Dimana, hasil pertemuan dengan camat Krayan Selatan, aparat desa, Satgas Pamtas, serta masyarakat diperoleh poin-poin hasil dari kaji cepat di lapangan.
"Pertama, memohon agar mendapatkan bantuan segera untuk perbaikan jalan yang mengalami tanah longsor sesuai dengan kewenangan pelaksanaan pekerjaan dimaksud," jelasnya.
Kemudian, memberikan masukan dan saran kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) agar jembatan yang merupakan akses dari Kecamatan Krayan Barat menuju Kecamatan Krayan Selatan untuk dapat dibuatkan jembatan secara permanen dibanding setiap tahun hanya mengeluarkan anggaran pemeliharaan.
Selanjutnya, perbaikan jaringan Irigasi yang terkena longsoran diharapkan agar jaringan irigasi dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
"Berdasarkan hasil kaji cepat dan pantauan tempat kejadian bencana pada wilayah Kecamatan Krayan Selatan maka disarankan untuk penetapan status siaga darurat bencana dan atau penetapan status darurat bencana," jelasnya. (akz/lim)