Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Dari Sendok Plastik Bekas, Kami Membuat Burung Terindah di Dunia”

anggri-Radar Tarakan • 2019-06-24 12:03:02

Burung merak merupakan salah satu burung terindah di dunia dikarenakan memiliki bulu-bulu cantik. Bahkan, siapa saja yang melihatnya tentu akan terpesona. Apalagi saat melebarkan sayapnya. Lalu seperti apa jika burung merak itu terbuat dari sendok plastik bekas.

RACHMAD RHOMADHANI

MESKI tak dapat secara langsung melihat keindahan dari burung merak saat melebarkan sayapnya yang memiliki beraneka ragam warna pada bulunya.

Pelajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Tanjung Selor tidaklah putus asa. Mereka dengan keterbatasan fisiknya tetap berupaya dengan dibimbing oleh instruktur dan gurunya agar dapat melihat keindahan burung merak itu.

Tentu, terpikir seperti apa cara yang dilakukannya? Ya, dari perbincangan penulis dengan instruktur dan para guru di SLB. Salah satu caranya yakni bagaimana menunjukkan mereka bahwa keindahan itu tak mesti dilihat secara langsung oleh mata.

Melainkan, bagaimana dari salah satu burung terindah di dunia itu justru dilahirkan dari tangan–tangan kreativitas mereka para anak disabilitas. Dan akhirnya, cara itu pun dimulainya. Meski, dalam tahap awal tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Utamanya, saat mencari bahan-bahan yang digunakan sebagai pendukung kerajinan tangan yang bernilai tinggi itu yakni sendok plastik.

Melainkan, dari perbincangan penulis dengan Instruktur di SLB Tanjung Selor, Agustryanti bahwa untuk mendapatkannya terkadang harus mencari sendok plastik bekas yang memang terbuang begitu saja pasca digunakan dalam suatu acara.

Satu persatu sendok plastik bekas itu pun terkumpul dan siap untuk dikreasikan. Yakni dengan membuat kerajinan tangan burung merak yang secara langsung diperankan oleh pelajar SLB Tanjung Selor. “Kita paling awalnya saja hanya membantu mereka mencari bahan-bahannya. Kemudian, untuk kreasi hingga menjadi burung merak sendiri merupakan hasil dari tangan-tangan mereka sembari kami bimbingnya,” ungkap wanita yang akrab disapa Yanti ini.

Wanita berhijab dalam hal ini tak menampik juga, mengenai pembuatan burung merak dari bahan sendok plastik bekas itu memang terbilang cukup sulit. Namun, sulit bukan hanya mencari bahan-bahan dari sesuatu barang yang dianggap tak bernilai bagi sebagian masyarakat. Akan tetapi, dalam pembuatannya sendiri membutuhkan ekstra kesabaran. Hal ini dikarenakan dalam penyusunannya tidak sembarang tempat.

“Apalagi, kita tahu tingkat kejenuhan anak-anak ini sampai 70 persen. Untuk itu, memang perlu kesabaran dari saya sendiri dan para guru lain,” ujarnya.

Dikatakannya juga, sejauh ini buah dari kesabaran dan keuletan. Baik, dari pelajar, guru dan dirinya sendiri. Yang mana, telah menghasilkan suatu karya yang dianggap cukup luar biasa saat ditampilkan pada pemeran yang diselenggaran Pemprov Kaltara, Pemkab Bulungan dan lainnya.

“Orang melihat sekilas, burung merak yang terdapat dibingkai itu merupakan lukisan. Namun, saat pandangan mata melihat jauh lebih dekat, baru diketahui itu terbuat dari sendok plastik bekas,” katanya.

Disinggung mengenai cara pembuatannya sendiri? Yanti menjelaskan bahwa pembuatannya membutuhkan waktu setidaknya selama dua pekan. Dan dua pekan ini tidak murni pada penyusunan sendok plastik pada bingkai foto atau pigura. Melainkan, sembari membuat bahan pendukung lainnya guna menunjang burung merak itu sendiri.

“Ada bagian kepala itu menggunakan wadah piring telur. Kalau bulu-bulunya murni menggunakan sendok yang telah di potong-potong,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, untuk bahan sendok plastik yang dibutuhkan agar dapat menjadi seolah burung merak pada umumnya yang terlihat pada layar televisi. Di mana setidaknya membutuhkan lebih dari 100 sendok plastik. Sebab, memang kebutuhan itu menyesuaikan dari besarnya kerajinan tangan itu dibuat. “Menyesuaikan saja, tapi adalah 100 sendok plastik yang dipotongnya,” katanya.

Sementara, dikatakannya kembali dalam perbincangan yang lebih lanjut. Untuk menambah nilai dari burung merak laiknya seperti lukisan itu. Ia mengakui bahwa itu perlu dilakukan pengecatan. Diketahui, dari pengecatan itu akan terlihat berbagai warna yang indah dari burung merak itu.

Namun, tetap pewarnaan itu laiknya menyerupai bola mata seperti bulu merak pada umunya. Dan jika dalam bentuk aslinya bahwa fenomena bola mata ini lantaran adanya kemampuan rambut kecil yang dapat memantulkan cahaya. Akhirnya, dari cahaya itu yang dipantulkan oleh rambut berubah menjadi gelombang panjang yang terdiri dari beberapa macam warna. Kemudian, warna itu membentuk bulatan kecil yang mirip mata.

“Tapi, tetap karya ini akan terus diperbarui kualitas dari kerajinan tangannya. Ya, meski dari tampilan saat ini sudah cukup menyedot perhatian banyak orang,” ucapnya.

Ditambahkannya juga, pameran sendok plastik bekas ‘disulap’ menjadi burung merak ini merupakan salah satu kerajinan tangan andalan saat pameran berlangsung. Termasuk saat pameran yang baru-baru ini digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltara. Kerajinan itu memang cukup banyak yang mengaguminya.

“Ke depan kita akan lebih sering menampilkan karya–karya seni dari pelajar SLB dalam pameran. Tentu, jika bicara tujuan yakni sebagai upaya dalam menjaga eksisnya hasil karya SLB Tanjung Selor,” paparnya.

Ditanya kembali apakah diperjualbelikan? Yanti dalam hal ini menyebutkan bahwa benar adanya. Hasil karya dari pelajar SLB Tanjung Selor itu selain dipamerkan sekaligus dipromosikan untuk diperjualbelikan. “Satu burung merak dalam bingkai foto atau pigura ini harganya berkisar RP 450 ribu,” sebutnya.

“Tapi, harga itu kembali pada ukuran burung merak yang dibuat. Hanya, pada ukuran burung merak dengan menggunakan setidaknya 100 lebih sendok plastik bekas harganya seperti disebutkan itu,” timpalnya.

Senada dikatakan Khabibar salah seorang guru di SLB Tanjung Selor. Di mana sendok plastik bekas itu ‘disulap’ menjadi kerajinan tangan atau karya seni yang jauh lebih bernilai. Padahal, jika masyarakat pada umumnya dalam penggunaan sendok plastik itu pasca digunakan dibuang ke tempat sampah. Atau parahnya dibuang di got ataupun jalan raya. Tentu, namanya sampah itu terbuat dari bahan plastik. Maka, akan menjadi problematika ke depannya jika masalah sampah plastik tak ada solusi.

Pasalnya, plastik dapat berdampak buruk bagi keberlangsungan bumi atau lingkungan jika dibuang di sembarang tempat. Sebab, sifat plastik sulit diurai oleh tanah secara alamiah, meskipun sudah tertimbun beratus tahun lamanya.

Sedangkan, dalam berbagai penelitian menjelaskan, plastik baru bisa diuraikan oleh tanah setidaknya setelah tertimbun selama 200 hingga 400 tahun. Bahkan ada penelitian yang menyebutkan bahwa sampah plastik bisa terurai oleh tanah dalam waktu 1.000 tahun lamanya.

Proses lamanya terurai inilah yang kemudian mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan, seperti munculnya zat kimia yang dapat mencemari tanah. Sehingga berkurang tingkat manfaat dan kesuburannya. Dengan proses yang susah diuraikan, sampah plastik juga dapat membunuh hewan pengurai tanah seperti cacing. Sehingga wajar saja apabila tingkat kesuburan tanah bisa berkurang.

“Berangkat dari situ, inovasi itu muncul. Ini sembari mengajari mereka tentang suatu kreativitas dari sendok plastik tersebut,” tuturnya. (***/eza/bersambung)

 

Editor : anggri-Radar Tarakan
#feature