Keberlangsungan bisnis, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) harus memanfaatkan potensi lain agar dapat bangkit di tengah pandemi. Butuh kejelian memanfaatkan situasi saat ini. Beberapa sektor terpukul dengan pandemi Covid-19, namun adapula yang terus menjaga asa.
SEPERTI salah seorang pelaku UMKM, Jenk Ana Sasmoko mengaku penjualannya meningkat drastis. Sebelum merebaknya Covid-19 di Kaltara, khususnya Tarakan, dia hanya mengorder barang dari Pulau Jawa dengan durasi 3 kali dalam sebulan.
Namun baru-baru ini, penjualannya meningkat hingga dalam seminggu dia mengambil barang dari luar sebanyak 2 kali. Dalam seminggu yang terjual sebanyak 300 lembar hingga 500 lembar baju anak-anak maupun orang dewasa.
“Sebagian orang mengeluh penurunan omzet, tapi saya alhamdulillah peningkatan 100 persen. Dengan situasi ini, tergantung bagaimana kita menyikapinya dan rezeki sudah ada yang atur. Yang penting kami tetap safety (aman),” kata wanita berhijab ini.
Dalam hal ini strategi pemasarannya diubah, dengan mengikuti perkembangan zaman. Dikatakannya, dalam situasi ini pemerintah mengimbau agar masyarakat tetap di rumah selagi tidak ada keperluan mendesak di luar. Momen ini pun lebih giat dimanfaatkannya untuk promosi melalui media online miliknya.
“Dari dulu memang sering promosi lewat online, tapi dengan kondisi seperti sekarang orang banyak diam di rumah, dan pasti pegang gadget. Jadi saya manfaatkan sikon, rajin promosi online,” katanya.
Sebelumnya dia bergelut di dunia kuliner. Namun saat ini dia lebih fokus pada penjualan baju dan ramuan herbal, yang juga sesuai dengan kondisi pandemi Covid-19. “Kuliner dilanjutkan anak saya. Kami sikapi keadaan ini dengan positif thinking (berfikir positif). Meski di rumah, tetap kreatif,” tutupnya.
DAYA BELI MENURUN?
Suryadi, salah satu pengusaha sektor perikanan di Tarakan menuturkan, semenjak adanya pandemi daya beli masyarakat sangat menurun. Sehingga sangat berdampak terhadap ekspor domestik komoditas ikan komsumsi. Suryadi merupakan pengusaha yang sering mengekspor ikan bandeng ke Pulau Jawa.
“Kalau sebelumnya, rata-rata kami kirim 300 ton. Tapi sekarang turun sampai 50 persen, jadi bisa jadi 150 ton aja,” ungkapnya.
Dampaknya lagi, para petani tambak pun mulai menahan hasil panennya. Lantaran harga bahan baku yang turun. Kalau pun dipaksakan untuk memanen, dipastikan modal awal tidak akan kembali. “Akhirnya memberikan efek ke semuanya, ke pembelian (pengepul) dan penjual di pasar,” bebernya.
Diakui Suryadi, hasil olahan perikanan miliknya 90 persen dikirim ke Jakarta. Akibat turunnya pemesanan, dipastikan harga ikan yang dijual keluar juga turun.
Biasanya ia membeli ikan bandeng sehari bisa mencapai 20 sampai 30 ton. Namun akibat adanya petani tambak yang beberapa kali menunda untuk panen, maka ikan yang dibeli pihaknya juga menurun.
“Permintaan dari Jakarta juga menurun. Pengusaha menahan dan takut, jadi mereka panik juga,” tutur Suryadi.
Meski adanya penurunan permintaan, namun Suryadi memastikan untuk pengiriman masih tetap berjalan. Pihaknya pun sempat dimintai oleh pihak jasa pengiriman, untuk menandatangani apabila barang tersebut tidak bisa masuk ke daerah tujuan. Namun Suryadi bertekad bahwa komoditas pangan masih sangat dibutuhkan, sehingga ia terus melakukan ekspor. “Karena ini makanan dan sangat dibutuhkan,” imbuhnya.
Kondisi juga berdampak bagi karyawan di cold storge miliknya. Salah satu pilihannya dengan gaji yang lebih kecil dibanding biasanya. “Mereka ini borongan, jadi jumlah produksi memengaruhi hasilnya. Jadi kami bersabar dan bertahan saja,” bebernya.
Di cold storage milinya terdapat 80 pekerja borongan. Para pekerja tetap memilih bertahan meski penghasilan yang didapatkan berkurang. Suryadi juga membeberkan bahwa usaha miliknya tidak bisa dipungkiri mengalami kerugian.
“Kalau bulan ini saya jebol (rugi), karena lari dari target dan biaya produksi dan operasional tidak sesuai. Tapi kami tetap bertahan karena banyak yang cari makan di sini,” bebernya.
Mulyadi salah satu pelaku usaha di sektor pertanian juga mengemukakan hal yang sama. “Kalau saya daya jualnya menurun dari 50 sampai 60 persen,” ucapnya.
Diakuinya, biasanya beberapa restoran yang memesan sayur hingga 2 hari sekali. Saat ini menurun drastis. Ditambah lagi, beberapa pelaku UMKM memilih tutup saat ini. “Kalau itu memang sudah setop permintaan dan tidak ada kabar mau ambil lagi,” sebutnya.
Mulyadi pun akhirnya lebih memilih untuk menunda jangka panen beberapa sayuran. Biasanya sayur dipanen setiap 2 hari sekali. Meski adanya penurunan daya beli masyarakat, namun dirinya tetap terus berjalan. Meski biaya produksi yang dikeluarkan terkadang tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan. “Ya kami berharap Covid-19 ini cepat berakhir dan ekonomi kembali pulih,” tutupnya.
MEMANFAATKAN HASIL ALAM
Ekonom sekaligus akademisi Universitas Borneo Tarakan (UBT) Margiyono mengungkapkan, terjadi pergeseran fokus industri kecil di masyarakat sebagai upaya mempertahankan kestabilan ekonomi. Meski demikian, ia melihat pergeseran ini hanya sementara waktu. “Saya melihat, beberapa industri rumahan misalnya pembuatan masker, APD, disinfektan, antiseptik itu sudah mulai berjalan cuma sifatnya tentu hanya untuk jangka pendek.
Artinya hanya untuk orang yang melengkapi kekurangan dari pasar yang ada. Jadi, menurut saya yang paling signifikan, itu adalah industri-industri yang berbasis pada kearifan lokal. Kearifan lokal itu, menurut saya, selama ini penopang ekonominya paling banyak pertambangan hampir 27 persen, pertanian sekitar 17 persen dan lainnya adalah perdagangan jasa. Perdagangan jasa ini kan mengalami pukulan agak telak karena lambannya aktivitas bisnis. Itu memang terletak di pertanian perikanan. Perikanan itu kan dari ketersediaan bahan baku sampai pasar jejaringnya sudah terbangun. Artinya tetapi masih ada peluang-peluang yang bisa dikembangkan untuk itu,” ungkapnya, (19/4).
Kata dia, pemerintah harus tanggap melihat situasi yang ada. Dengan terjadinya kejatuhan harga pada beberapa komoditas lokal, sehingga hal ini dapat dimanfaatkan dalam mengubah menjadi peluang untuk memaksimalkan penjualan hasil alam.
“Misalnya katakanlah pertanian untuk pemanfaatan pengolahan hasil ikan, pemanfaatan pengolahan rumput laut, pengolahan kepiting, pengolahan misalnya limbah ikan dan seterusnya. Itu kan belum begitu maksimal misalnya hasil laut yang selama dijual dalam bentuk mentah. Sebenarnya kalau selama ini masih dijual dalam bentuk bahan baku, itu memang menguntungkan buat si pelaku. Tapi secara ekonomi, itu merugikan. Di dalamnya, ada banyak peluang ekonomi yang hilang,” tuturnya.
Jika kondisi ini terjadi dalam jangka waktu yang panjang, maka hal itu akan menyebabkan kerugian besar bagi para nelayan dan petani. Diperlukan kreatifitas besar dari mengubah ancaman kerugian menjadi potensi keuntungan.
“Misalnya jika bahan baku itu bisa dikelola dan dijual dalam bentuk jadi, maka hal itu akan menambah keuntungan dan meminimalisir kerugian karena lebih awet. Misalnya hasil perikanan diolah menjadi ikan kaleng, rumput laut yang diolah menjadi cemilan dan berbagai minuman kemasan mungkin itu lebih maksimal,” tuturnya.
Dengan melakukan pengolahan sendiri, maka hal tersebut dapat menekan angka pengangguran dan membuat daerah tidak menggantungkan diri pada daerah atau negara lain.
“Dengan mengelolanya, selain mendapatkan harga jual yang maksimal, secara langsung juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan. Ini juga merupakan peluang buat kita, karena daripada menjual bahan baku dengan menggantungkan nasib kepada keadaan sosial politik internasional, lebih baik hasil itu dikelola dalam daerah dan dipasarkan daerah,” ucapnya.
Semestinya organisasi perangkat daerah (OPD) dan perumda terkait sudah menyadari hal tersebut. Namun menurutnya hingga saat ini belum terlihat adanya langkah-langkah yang dilakukan dalam menghindari kerugian.
“Peluang itu bisa dimanfaatkan dengan melakukan kebijakan strategis memanfaatkan bahan baku lokal,” katanya. “Memang ini tidak singkat, tapi kalau semua OPD, perumda dan masyarakat bisa bekerja sama maka hal ini bisa terwujud. Sejauh ini Kaltara dapat membangun jejaringnya karena geografis di perbatasan,” terangnya.
Dalam situasi sulit seperti saat ini dibutuhkan sosok berani dan berpikir di atas rata-rata dalam membaca ancaman dan mengubahnya menjadi peluang.
“Jika pemerintah tetap slow sampai beberapa bulan mendatang maka ancaman dampaknya akan meningkatkan angka kriminalitas serta akan meningkatnya angka perceraian akibat jatuhnya perekonomian,” ujarnya. (*/one/zar/*/zac/lim)
Editor : izak-Indra Zakaria