KASUS konfirmasi Covid-19 di Kalimantan Utara (Kaltara) kembali mengalami penambahan. Kemarin (6/8), Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kaltara mencatat ada tambahan 7 kasus baru.
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kaltara, Agust Suwandy mengatakan, tambahan 7 kasus konfirmasi berasal dari Kabupaten Malinau, yang terdiri dari 2 kasus dari klaster karyawan perusahaan dan 5 kasus merupakan kontak erat.
“Dua yang dari klaster karyawan perusahaan itu semuanya laki-laki dengan inisial ML (39) dan AY (26),” ujarnya kepada Radar Tarakan saat dikonfirmasi, Kamis (6/8).
Sedangkan 5 kasus kontak erat itu terdiri dari satu laki-laki dengan inisial UL (22), dan 4 perempuan dengan inisial NI (55), AA (22), MR (26), dan SS (27). Hasil ini berdasarkan pemeriksaan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya dan pemeriksaan secara mandiri oleh perusahaan di Rumah Sakit Pertamina Jakarta.
“Sementara untuk kasus yang dinyatakan sembuh belum ada tambahan, sehingga total kesembuhan di Kaltara tetap berjumlah 265 orang atau 90,75 persen dari total kasus yang ada,” jelasnya.
Kemudian, dengan adanya tambahan 7 kasus konfirmasi baru itu, maka total konfirmasi di provinsi termuda Indonesia ini naik menjadi 294 orang. Lalu pasien konfirmasi positif yang meninggal dunia ada 2 orang.
“Dengan begitu, jumlah pasien yang hingga kini masih dirawat berjumlah 27 orang yang terdiri dari 4 orang di Bulungan, 3 orang di Nunukan, dan 20 orang di Malinau,” bebernya.
Pria yang juga menjabat kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara ini mengimbau kepada masyarakat agar waspada.
“Jika beraktivitas, masyarakat harus tetap menjalankan standar protokol kesehatan. Jangan sampai kita lengah yang akhirnya bisa menimbulkan keresahan baru di masyarakat,” pungkasnya.
ZONA HIJAU
Terhitung sejak 24 Juli hingga 06 Agustus kemarin, Kota Tarakan sudah memasuki 14 hari nol tambahan terkonfirmasi positif Covid-19. Namun sayangnya, tidak serta merta Tarakan langsung ditetapkan wilayah zona hijau.
Dijelaskan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, M.Kes, saat ini Tarakan masih berada dalam status zona kuning. Sedangkan untuk penetapan zona hijau, diputuskan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.
“Jadi saat ini kita masih berproses, tidak hanya melihat berapa harinya. Penetapan zona hijau dari Kementerian Kesehatan. Memang sebelumnya dikatakan 2 minggu setelah tidak ada penambahan transmisi lokal. Tapi ada beberapa hal yang harus kita penuhi,” terangnya.
Salah satu target yang harus dipenuhi Gugus Tugas adalah pemeriksaan swab secara acak atau random, yang ditargetkan 35 sampel per hari. Pengambilan sampel ini pun dilakukan secara bertahap di tempat umum, seperti perkantoran, perusahaan, dan lainnya. “Syarat epidemiologi, syarat pelayanan kesehatan, tenaga kesehatannya. Melakukan tracing kasus untuk kontak erat, suspek. Jadi ada target yang harus dipenuhi sebelum (ditetapkan) zona hijau. Masih kami pantau dulu,” jelasnya.
“Yang sudah dilakukan pemeriksaan sampel beberapa instansi seperti Satpol PP, BPBD, pesantren. Termasuk perkantoran, jadi kami lakukan secara bertahap,” sambungnya.
Ditargetkan 35 sampel per hari, lantas di manakah pemeriksaan ini dilakukan? Sejauh ini tidak semua pemeriksaan bisa dilakukan di Tarakan. Sehingga sampel akan dikirimkan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, dan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jakarta.
“Karena tidak semua bisa diperiksa di Tarakan, maka ada yang dikirim ke Jakarta dan Surabaya. Pemeriksaan baru mulai dilakukan dalam minggu ini. Tapi kalau dihitung sampai saat ini, total sampel yang sudah diperiksa (sebelumnya) sekitar 1.700 sampel, termasuk pemeriksaan di perkantoran,” bebernya.
Ditambahkannya, dari 88 kasus total terkonfirmasi sebelumnya, dr. Devi mengatakan sebagian besar tidak menunjukkan gejala. Sehingga ini yang harus diwaspadai jelang penetapan zona hijau.
“Kita harus melihat bahwa sebagian besar yang terkonfirmasi positif itu tidak bergejala, jadi itu yang ditekankan. Maka dari Kementerian Kesehatan sangat berhati-hati untuk penetapan status zona hijau,” katanya.
Kendati demikian, dalam 14 hari ini tidak ada tambahan kasus baru, yang menandakan penularan Covid-19 bisa dikendalikan. Kasus suspek yang dipantau pun terus menurun hingga di angka 43 orang. Sama halnya dengan kontak erat tersisa 37 orang yang dipantau.
“Pencegahan dan penanganan Covid-19 bersifat dinamis. Tidak ada tambahan transmisi lokal dalam dua minggu, berarti penularan Covid-19 bisa dikendalikan. Tapi yang menetapkan kita sudah zona hijau adalah Kementerian Kesehatan,” tutupnya.
IDI IMBAU PATUHI PROTOKOL
Memasuki adaptasi kebiasan baru (AKB) pada Agustus ini, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltara mengimbau agar masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan selama kegiatan, hal tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19.
Ketua IDI Kaltara, dr. Franky Sientoro, Sp.A, mengatakan, memasuki AKB bukan berarti masyarakat sudah tidak mematuhi protokol kesehatan dengan tidak menggunakan masker ataupun tidak menjaga jarak, namun hal tersebut tetap dilakukan sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
“AKB ini bukan berarti sudah tidak ada Covid-19, tapi merupakan upaya dari pemerintah dalam mendorong perekonomian tetap berjalan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,” ujarnya, Kamis (6/8).
DIrinya menilai keputusan Wali Kota Tarakan, dr. Khairul terkait AKB sudah tepat, karena hal tersebut dapat mendorong perekonomian yang sebelumnya terhambat. “Kami harapkan masyarakat tidak euforia adanya AKB ini, tapi bagaimana diharapkan masyarakat lebih sadar diri dengan menjaga lingkungan dan keluarganya agar tidak terkena Covid-19,” ujarnya.
Mengapa dirinya nilai masing-masing orang perlu memiliki kesadaran diri untuk menjaga lingkungan dan keluarganya agar tidak terkena Covid-19, mengingat saat ini untuk masyarakat yang akan datang ke Tarakan tidak lagi dilakukan karantina seperti sebelumnya. “Kami harapkan ada kesadaran diri masing-masing, misalnya yang baru datang dari luar Tarakan, sudah memiliki kesadaran diri untuk melakukan karantina mandiri. Begitupun bila merasa tidak enak badan, saya sarankan agar tidak keluar rumah terlebih dahulu, karena bisa saja kondisinya terkena Covid-19,” ucapnya.
Dirinya mengkhawatirkan bila masyarakat tidak memiliki kesadaran diri untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, akan terjadi lonjakan kembali kasus Covid-19 yang tentunya akan berdampak kepada semua sektor.
“Banyak kasus di Surabaya, Jawa Timur penularan Covid-19 terjadi di lingkungan keluarga. Seperti teman saya, keluarganya tertular Covid-19 dari keluarga lain, tentunya hal tersebut harus menjadi perhatian kita semua,” ucapnya.
KONTAK ERAT SUDAH DI-SWAB
Sementara di Nunukan, setidaknya sudah ada 31 kontak erat dari hasil tracing pasien konfirmasi. Jumlah kontak erat, diprediksi masih akan bertambah karena tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nunukan, masih terus melakukan tracing hingga saat ini.
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nunukan, Aris Suyono mengatakan, pihaknya hingga kini memang masih terus menunggu hasil tracing yang terus berproses di lapangan dalam mencari kontak erat pasien baru positif Covid-19 yakni, pasien NNK 46 dan NNK 47.
“Ya, masih proses di lapangan untuk tracing kedua pasien. Info terbaru memang jumlahnya sudah ada 31 yang diswab, rincian keseluruhan menyusul kita sampaikan lagi,” ujar Aris ketika diwawancara, Kamis (6/8).
Dilanjutkan Aris, dikarenakan keduanya tidak punya gejala, sesuai pedoman revisi ke-5 pencegahan dan penanggulangan Covid-19, ketika pasien konfirmasi tidak bergejala atau pun hanya bergejala ringan, pasien hanya diwajibkan untuk menjalani isolasi secara mandiri terhitung dari pengambilan swab terakhirnya.
Sementara swab terakhir pengambilannya pada kedua pasien, diambil pada tanggal 28 Juli lalu. Dihitung hingga 10 hari kedepan, ketika pasien tidak ada gejala, nantinya kasus konfirmasi positif tersebut akan selesai pemantauannya atau bisa disebut sembuh.
Dari hitungan Gugus Tugas Nunukan, 2 hari ke depan pasien sudah terhitung genap 10 hari tanpa gejala. Otomatis pihaknya akan keluarkan kedua pasien dari data kasus konfirmasi positif dan dinyatakan sembuh atau selesai pemantauan.
“Karena juga kedua pasien ini tidak bergejala, kedua pasien menjalani isolasi mandiri. Jadi kita lihat hingga 2 hari ke depan,” jelas Aris.
Sejak Selasa (4/8) pihaknya telah melaksanakan penyelidikan epidemiologi (PE) kepada pasien NNK 46. Pasien memang ada riwayat bepergian ke Bone dan Makkasar dan kembali ke Nunukan pada 5 Juli lalu. Seminggu sebelumnya, waktu masih berada di Bone, pasien memang sudah memperlihatkan timbulnya gejala seperti deman dan influenza.
Tepat pada 24 Juli, pasien melakukan pemeriksaan rapid test dan dinyatakan reaktif. Pasien pun masuk dalam kategori suspek. Hingga akhirnya di ambil sampel untuk swab dan dikirim ke Tarakan.
“Hasilnya inilah pasien dinyatakan positif Covid-19. Kemudian hasil penyelidikan epidemiologi disimpulkan bahwa pasien merupakan pasien impor, bukan merupakan penularan lokal,” kata Aris menyimpulkan.
Sementara itu, untuk pasien NNK 47, merupakan warga asal Balikpapan yang tinggal di Sebatik Barat, sesuai hasil PE awal, pasien merupakan pelaku perjalanan yang datang ke Sebatik Barat sejak tanggal 11 Juli lalu.
Tepat pada tanggal 24 Juli, yang bersangkutan ingin kembali ke Balikpapan dan di lakukan rapid test dengan hasil reaktif. Dikarenakan reaktif, akhirnya dilanjutkan dengan pemeriksaan swab dan hasil positif pada Selasa (4/8) kemarin.
“Hasil PE juga disimpulkan bahwa pasien merupakan impor, bukan penularan lokal,” ujar Aris.
Dengan kembali adanya pasien konfirmasi baru, Aris meminta perlu adanya kesadaran dari semua masyarakat untuk selalu taat dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Yang paling diwajibkan adalah penggunaan masker. Ketika keluar rumah dan di ruangan publik, masyarakat wajib menggunakan masker. Selanjutnya rajinlah mencuci tangan menggunakan sabun juga selalu menjaga jarak dengan orang lain, terutama ketika berinteraksi dengan orang lain, harus menjaga jarak 1 sampai 2 meter.
“Jangan lupa juga konsumsi vitamin dan rajin berolahraga untuk meningkatkan imun, supaya tidak gampang terserang semua penyakit infeksi yang menular,” harap Aris. (iwk/*/one/jnr/raw/lim)
Editor : izak-Indra Zakaria