SEPEKAN terakhir ini, tambahan kasus konfirmasi positif Covid-19 di Kalimantan Utara (Kaltara) terbilang cukup tinggi. Bahkan, ada yang dalam sehari terjadi penambahan kasus sampai puluhan orang.
Saat dikonfirmasi, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kaltara, Agust Suwandy tak memungkiri hal tersebut. Agust mengakui, jika dilihat pada beberapa waktu belakangan ini, memang ada beberapa klaster keluarga yang timbul. “Sebenarnya kasus ini ada yang timbul dari perkantoran dan lain-lain, tapi karena dalam keluarga masih terjadi kontak, sehingga terjadi transmisi pada keluarga itu,” ujarnya kepada Radar Kaltara saat ditemui di Tanjung Selor, Kamis (15/10).
Namun, saat ini pihaknya sudah melakukan berbagai upaya bersama dengan Satgas Penanganan Covid-19 kabupaten/kota di Kaltara ini. Salah satunya seperti yang dilakukan di Bulungan, yakni pembukaan kembali tempat karantina khusus. “Upaya ini diyakini akan mengurangi terjadinya transmisi di keluarga masing-masing,” katanya.
Hanya, karena kejadian atau terpaparnya seseorang terhadap wabah virus ini ada yang tidak bergejala, sehingga tidak terdeteksi yang akibatnya sempat terjadi transmisi di keluarganya.
“Jadi upaya kami untuk kasus yang ada sekarang, itu dilakukan karantina. Jika tidak dapat secara mandiri, maka akan dikarantina di tempat yang telah disediakan pemerintah,” sebutnya.
Jika dikarantina di tempat yang disediakan pemerintah itu tentu akan lebih baik. Sebab, jika ada yang bergejala, itu akan bisa langsung ditindaklanjuti dalam bentuk pengobatan. Bahkan, jika menunjukkan kondisi yang semakin memburuk, maka akan dilakukan isolasi di rumah sakit.
Tak hanya itu, pihaknya juga masih terus melakukan bebagai hal lain sebagai bentuk upaya menekan jumlah kasus, seperti sosialisasi, edukasi dan juga melakukan penertiban. “Tapi untuk penertiban ini tidak bisa juga dilakukan di setiap waktu, karena kami juga memiliki keterbatasan dan kegiatan lain yang harus dikerjakan,” sebutnya.
Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa kemarin (15/10) tidak ada tambahan kasus konfirmasi positif baru. Namun, untuk yang sembuh, itu ada tambahan 4 orang yang terdiri dari dua orang di Bulungan dan dua orang di Malinau. “Untuk dua orang di Bulungan itu berinisial AS (42) perempuan dari transmisi lokal dan AM (22) laki-laki pelaku perjalanan dari Tarakan,” katanya.
Sementara untuk 2 orang di Malinau itu berinisial SM (43) laki-laki pelaku perjalanan dari Kalimantan Timur (Kaltim) dan YL (52) perempuan dari transmisi lokal.
Dengan begitu, total yang terkonfirmasi positif di provinsi termuda Indonesia ini masih tetap 673 kasus dan meninggal dunia juga masih tetap 5 orang. Sedangkan yang sembuh bertambah 4 orang sehingga menjadi 588 orang. “Adapun yang masih dirawat sebanyak 80 orang, dengan rincian 18 orang di Tarakan, 51 orang di Bulungan, 7 orang di Nunukan, serta di Malinau dan Tana Tidung masing-masing 2 orang,” pungkasnya.
KONTAK ERAT BERTAMBAH
Daftar tambahan kasus terkonfirmasi Covid-19 transmisi lokal, dari klaster kontak erat di Tarakan semakin panjang. Hingga Kamis (15/10), pasien positif yang menjalani perawatan dan pemantauan menjadi 21 orang.
Dikatakan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, M.Kes, kemarin terdapat dua tambahan kasus terkonfirmasi transmisi lokal.
Yakni kasus ke-272 EH (29) warga RT 29, Kelurahan Pamusian, Tarakan Tengah. Yang bersangkutan merupakan kontak erat dari kasus ke-264 UW (42) yang dinyatakan positif Rabu (14/10). “Ini hasil dari tracing kasus, kontak erat yang kemarin. Ada yang satu tempat kerja, ada juga yang tidak tapi kontak erat karena kita tracing,” terangnya.
Kemudian kasus ke-273 RI (25) warga RT 25, Kelurahan Sebengkok, Tarakan Tengah. Dijelaskannya, yang bersangkutan berencana melakukan perjalanan ke luar kota. Sehingga melakukan rapid test, sebagai salah satu persyaratan administrasi yang harus dipenuhi. Dengan alasan reaktif, sehingga RI ditindaklanjuti dengan pemeriksaan swab.
“Hasilnya (swab) positif. Sumbernya dari mana masih kami lakukan tracing. Banyaknya transmisi lokal yang kita dapatkan adalah kontak erat,” lanjutnya.
Diketahui kedua tambahan ini tanpa gejala. Sementara ini masih dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT), untuk memastikan apakah layak melakukan isolasi mandiri atau di rumah sakit. “Dipastikan dulu kesehatannya, di-rontgen, apakah bisa dilakukan isolasi mandiri,” katanya.
Adanya tambahan kasus baru ini, jumlah pasien positif yang dirawat menjadi 21 orang. Yang di antaranya 2 orang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, 3 orang melakukan isolasi mandiri, dan sebanyak 16 orang dirawat di RSUKT. “Sehingga jumlah kumulatif pasien terkonfirmasi sebanyak 273 orang, yang sembuh 251 orang, dan satu pasien terkonfirmasi yang meninggal,” jelasnya.
Bertambahnya pasien kontak erat ini, tidakkah Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan melakukan pemeriksaan secara masal? Dikatakan dr. Devi, saat ini Pemkot Tarakan belum dapat melakukan pemeriksaan secara masal atau besar-besaran.
Lanjutnya, banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Mulai dari pengadaan virus transfer media (VTM) atau tabung kecil untuk menyimpan sampel. “Kami belum bisa melakukan pemeriksaan secara masal. Karena kami harus melihat alat pelindung diri (APD) bagaimana, tenaga medisnya berapa, alat VTM-nya, jadi banyak yang harus dipersiapkan,” katanya.
Namun sejauh ini gugus tugas melakukan pemeriksaan secara masif di tempat umum. Seperti di pasar, perkantoran atau instansi.
“Kalau tracing tidak banyak (kasus baru) maka kita melakukan pemeriksaan di instansi-instansi,” tutupnya. (iwk/*/one/lim)
Editor : izak-Indra Zakaria