TANJUNG SELOR – Duka mendalam dirasakan warga Bulungan mengiringi kepergian Sudjati, Bupati Bulungan ke peristirahatan terakhirnya, Selasa (8/12) kemarin, sekitar pukul 11.00 Wita.
Ucapan bela sungkawa serta doa membanjiri media sosial (Medsos). Foto semasa hidup sosok orang nomor satu di Bulungan itu juga bermunculan lini masa medsos. Warga Bulungan mengenal sosok Sudjati adalah pejabat yang sangat sederhana, merakyat, ramah, bersahabat, dan tidak pandang status sosial.
Tidak hanya di media sosial. Wakil Ketua 1 DPRD Bulungan Aluh Berlian mengakui sosok almarhum adalah pemimpin terbaik dan bijaksana.
“Selama masa jabatan beliau kita kenal almarhum orang baik, sangat bermasyarakat, dan kita berhubungan baik,” kata Aluh Berlian kemarin.
Politisi Partai Golkar ini masih merasa tidak percaya sang Bupati pergi untuk selama-lamanya menghadap Sang Khalik.
"Ini masih serasa mimpi. Dan masih membayangkan sosok beliau dalam setiap rapat yang diinisiasikan oleh dewan. Kami merasa beliau masih hidup. Begitu dengar kabar, seperti mimpi karena memang beliau sosok yang baik dan ramah, tidak memandang dalam berteman,” kenangnya.
Wakil Bupati Bulungan Ingkong Ala, sosok Sudjati di matanya sangat baik. Dan selalu memperhatikan bawahannya. Ia mendapatkan informasi pada pukul 09.00 Wita, bahwa Bupati Bulungan dirawat di rumah sakit.
Mendengar informasi itu, ia langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk.
“Jantung pak Sudjati sempat dipompa menggunakan alat medis. Hingga pukul 11.00 Wita akhirnya menghembuskan nafas terakhir,” ucapnya.
Menurut dia, Sudjati menjadi panutan yang baik selama memimpin Bulungan. Dikenal sebagai sosok penyabar, Sudjati sangat dihormati olehnya.
“Apa yang telah dilakukannya untuk Bulungan cukup berkesan. Selain di mata pejabat, tentu di mata masyarakat," terangnya.
Selain Ingkong Ala, Komandan Korem 092 Maharajalilah, Brigjen TNI Suratno mengatakan, Bulungan kehilangan salah satu pemimpin terbaiknya. Sudjati yang dikenal sebagai orang yang sangat baik, selalu berkesan di mata Komandan Korem pertama di Kaltara itu.
“Dia orang baik dan selalu bekerjasama dengan kita," ujarnya. Semasa menjabat Bupati Bulungan, Sudjati juga mendukung kegiatan yang dilaksanakan TNI khususnya Korem.
“Beliau orangnya loyal. Terakhir bertemu saat rapat beberapa minggu lalu. Saya mendengar beliau pulang dari Samarinda dan sakit. Sampai dinyatakan positif," kata dia. “Kita doakan beliau semoga khusnul khotimah,” tambahnya.
Hal senada juga dikatakan, Mantan Kepala Dinas Kesehatan Bulungan, dr Idewan Budi Santoso yang sangat merasa kehilangan. Sebagai tokoh panutan, ia merasa sedih.
“Saya mengenal semenjak bujang hingga menjabat Bupati. Dia orang baik yang memiliki misi membangun Kaltara,” sebut dia.
Kata dia, bagaimanapun Sudjati telah membuat pondasi di Bulungan. Khususnya di bidang kesehatan dan sosial. Kenangan Sudjati untuk masyarakat Bulungan, sangat mendasar dan memberikan perhatian untuk pembangunan layak huni.
“Banyak pencapaian yang telah dilakukan oleh pak Sudjati,” ungkapnya. Noverty Dayang Emanuel, warga Tanjung Selor pun merasakan duka mendalam. Warga Jalan Skip I ini menuturkan sosok Sudjati semestinya menjadi suri tauladan para pejabat. Menurutnya, almarhum sosok pemimpin yang bisa menyatukan semua masyarakat dengan latar belakangnya yang berbeda-beda. Semua kelompok usia, mampu dirangkul oleh Sudjati.
"Beliau tidak asing bagi kami dan sebagian besar masyarakat di Bulungan. Karena memang sikapnya yang loyal. Beliau juga selali ikut berpartisipasi dalam setiap komunitas kepemudaan," tuturnya.
“Kami mengenal Bupati Bulungan ini orangnya baik, ramah dan bermasyarakat. Pokoknya, orangnya terbaik-lah buat aku. Beliau sempat bergabung dalam komunitas kami di kesatuan bulutangkis. Dari situ saya mengenal beliau ternyata orangnya murah senyum," kenang Dayang.
Terjangkit Covid-19
Bupati Bulungan Sudjati menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Soemarno Sosroatmodjo Bulungan, Selasa (8/12) sekitar pukul 11.00 Wita setelah dirawat kurang lebih satu malam.
Kepala Dinas Kesehatan Bulungan Imam Sujono menyebutkan, kondisi kesehatan sang Bupati mengalami gangguan sepulang melaksanakan tugas dari Balikpapan dan Samarinda (Kalimantan Timur) pekan lalu. Setibanya di Bulungan, ia mengalami demam. Karena kondisinya tidak menunjukkan perubahan, Sudjati memutuskan melakukan karantina mandiri.
"Hari minggu kemarin dilakukan swab dan hasilnya positif Covid-19. Tadi malam (kemarin, Red) staminanya mulai menurun. Akurasi oksigen juga mulai turun. Akhirnya dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 21.00," kata Imam.
"Dan tadi pagi (kemarin, Red) kondisi kesehatannya mulai drop sekitar pukul 09.10, tidak sadarkan diri. Pada pukul 11.25 beliau menghembuskan nafas terakhir atau meninggal dunia," tambahnya.
Selanjutnya dikatakan Imam, Bupati Sudjati sebelumnya memiliki riwayat penyakit bawaan yaitu gangguan jantung. Penyakit tersebut sudah lama dideritanya.
“Beliau memang ada gangguan jantung, sudah diderita sejak lama. Adapun mengenai perjalanan dinas ke Balikpapan dan Samarinda, saya kurang tahu persis agendanya apa. Tapi Pak Bupati ini setiba di Bulungan mengalami demam. Setelah diswab, hasilnya positif (Covid-19)," tuturnya.
Ia melanjutkan, pasca Bupati dinyatakan positif, kemudian dilakukan penelusuran kontak terhadap 24 orang. “Hasil yang sudah keluar, istri beliau hasilnya negatif, cucunya negatif, anak yang laki-laki hasilnya negatif. Anaknya yang perempuan hasilnya belum keluar. Sementara ajudannya positif," ujarnya.
"Masih banyak yang belum keluar hasilnya karena kita konsentrasi menolong almarhum sejak malam sampai pagi tadi (kemarin, Red),” sebutnya.
Sebagai staf Bupati, Imam pun mengenang sosok pimpinannya itu. "Beliau ini terlalu baik, dan belum pernah melihat sosoknya marah kepada bawahan. Kalaupun ada kesalahan langsung dipanggil dan diberikan masukan sebagai sahabat, bukan sebagai bawahan," ungkapnya.
Sebagai staf atau perpanjangan tangan bupati, Imam mengaku sering ditegur oleh Sudjati. "Tapi cara memberikan teguran pun dengan cara yang sangat santun, bukan seperti pimpinan yang marah-marah, meletuk kepada bawahannya," ujarnya.
Imam membeberkan tiga pesan almarhum sebelum mulai tidak sadarkan diri.
"Beliau sempat menitipkan tiga pesan. Pertama, minta tolong sukseskan pilkada dan pilkades. Minta tolong tenaga kesehatan yang kompak dan tetap semangat. Dan sampaikan kepada masyarakat tetap jaga protokol kesehatan dengan baik. Ini kata-kata terakhir beliau sebelum dibacakan kalimat syahadat dan langsung tidak sadarkan diri,” ungkap Imam. (fai/*/mts/mua/uno)
Editor : uki-Berau Post