Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ratu Mulung ‘Menyulap’ Limbah Masker Jadi Barang Bernilai

anggri-Radar Tarakan • 2021-02-11 12:31:13
INOVATIF: Agustryanti atau akrab disapa Ratu Mulung saat menunjukkan hasil kerajinan tangannya dari limbah masker./RACHMAD RHOMADHANI/RADAR KALTARA
INOVATIF: Agustryanti atau akrab disapa Ratu Mulung saat menunjukkan hasil kerajinan tangannya dari limbah masker./RACHMAD RHOMADHANI/RADAR KALTARA

Masker menjadi salah satu alat pelindung diri (APD) di masa pandemi Covid-19. Bahkan, diketahui cukup banyak jenis masker yang digunakan oleh masyarakat. Namun, tak jarang masker yang biasa digunakan untuk sehari-hari sifatnya hanya satu kali pemakaian. Sehingga secara tak langsung menjadi salah satu sumber sampah baru di masa pandemi ini.

RACHMAD RHOMADHANI

MELIHAT limbah masker yang kotor dan berhamburan di jalan raya pasca digunakan, bagi sebagian orang itu sangat menjijikkan dan sangat risih. Namun, hal itu berbeda 360 derajat di mata Agustryanti. Wanita dengan julukan ‘Ratu Mulung’ di Ibu Kota Kaltara, Tanjung Selor ini.

Ya, dari limbah masker yang berhamburan dan dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri, justru menjadi sebuah ‘harta karun’ baginya. Yaitu, dari pikiran yang tersirat olehnya saat itu, dari limbah masker dapat ‘disulap’ menjadi barang kerajinan tangan yang bernilai tinggi.

“Tapi, sebenarnya saya sangat prihatin melihat kebiasaan oknum yang membuang masker-masker bekas mereka pakai itu di sembarang tempat. Kenapa tidak dibuang pada tempat yang semestinya,” ungkapnya mengawali wawancara ke penulis, Rabu (10/2).

Wanita berhijab ini pun mengatakan, bagaimana jika nantinya mendapati masker bekas itu adalah oknum yang tak bertanggung jawab. Misalnya, dari masker bekas itu tidak dikreasikan menjadi kerajinan tangan. Melainkan, di daur ulang dan dijual-belikan kembali.

“Sungguh miris jika sampai limbah masker ini ada di tangan oknum yang tak bertanggung jawab. Bahkan, saat itu saya bayangkan sangat sadis sekali jika sampai itu benar terjadi. Yaitu, masker bekas yang diperjual-belikan,” ujarnya.

Akhirnya, ia pun secara langsung memungut beberapa masker yang saat itu terlihat olehnya. Lalu, ia pun bungkus dalam plastik dan dibawa ke rumahnya. Dengan terus berpikir agar limbah masker ini dapat dikreasikan semenarik mungkin agar dapat memiliki sebuah nilai. “Di pikiran saya saat itu adalah memungut limbah masker itu dahulu, nanti untuk dikreasikan seperti apa sembari berproses di rumah,” ucapnya.

Lalu apakah tidak takut tertular virus ? Ia mengatakan bahwa tentu rasa takut itu ada. Namun, berdasarkan pengalamannya agar masker itu tidak menularkan virus, masker terlebih dahulu direbus dalam air mendidih, setidaknya selama 40 menit. Selanjutnya, masker bekas itu yang sudah di rebus didiamkan selama satu malam dengan dicampur deterjen.

“Prosesnya ini belum selesai. Pagi harinya pasca direndam deterjen. Masker kembali harus saya cuci, lalu dikeringkan. Setelahnya disetrika hingga setiap masker yang ada siap untuk dikreasikan dalam berbagai kerajinan tangan,” jelasnya.

Disebutkannya, sampai saat ini diakuinya sudah ada beberapa hasil kerajinan tangan yang berhasil dibuatnya dengan bahan dasar limbah masker. Mulai dari bross covid dan bunga covid. Hanya, untuk menunjang agar tampilan lebih menarik, ditambah dengan menggabungkan hasil kreasi lainnya yang juga dari barang bekas.

“Sebut saja bunga covid yang saya padukan pada bingkai yang terbuat dari koran bekas. Tujuannya, supaya terlihat lebih menarik saat dipajang di dinding ruang tamu atau lainnya,” tuturnya.

Ditanya apakah saat mengolah itu ada kesulitan tersendiri dibandingkan bahan lainnya? Ia menjelaskan bahwa pengelolaannya sebenarnya tidak sulit dan sama seperti perlakuan bahan kerajinan lainnya. Namun, yang menjadi pembeda adalah mengolah masker bekas harus detail dan membutuhkan proses yang tepat dan lebih berhati-hati. “Terutama, dalam mengolahnya harus tetap taat pada prokes (protokol kesehatan). Sehingga tidak sampai saya terpapar karena masker–masker ini diambil dari jalan raya yang berhamburan,” jelasnya.

Di sisi lain, pihaknya selama membuat kerajinan, iakui bahwa keluarga sangat mendukungnya. Suami dan anak tak pernah mempermasalahkannya. Bahkan, menurutnya semua memiliki sebuah nilai karakter yang sama. Yaitu peduli terhadap kebersihan lingkungan dari limbah-limbah yang ada.

“Suami dan anak saya itu sama–sama cemasnya kalau lihat limbah. Itulah mengapa saat saya mengolah, mereka mendukungnya hingga menjadi kerajian yang dikatakan bisa memiliki nilai jual juga,” ungkapnya. (***/eza)

 

 

Editor : anggri-Radar Tarakan