Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Garam Krayan Jadi Produk Andalan Dalam Negeri

anggri-Radar Tarakan • Jumat, 19 Maret 2021 - 17:32 WIB
PENGOLAHAN GARAM GUNUNG: Saat pandemi, peluang pasar baru garam gunung Krayan terbuka lebar untuk negeri sendiri./DOKUMENTASI RADAR TARAKAN
PENGOLAHAN GARAM GUNUNG: Saat pandemi, peluang pasar baru garam gunung Krayan terbuka lebar untuk negeri sendiri./DOKUMENTASI RADAR TARAKAN

NUNUKAN – Di balik pandemi Covid-19, ternyata memberikan peluang terbukanya ekonomi di Krayan. Sebab, produk lokal asli Krayan yakni garam gunung berpotensi menjadi produk lokal dalam negeri yang bisa menjadi andalan kebutuhan daerah tanpa mengharapkan suplai dari luar daerah lagi.

Posisi Malaysia yang sedang lockdown atau memberlakukan karantina wilayah, menjadikan produk lokal tersebut benar-benar digunakan masyarakat di Krayan. Bahkan menjadi peluang terbuka pemasaran baru untuk daerah lainnya, karena garam gunung Krayan tidak diekspor ke Malaysia lagi.

Itu diungkapkan Sekretaris Lembaga Percepatan Perluasan Pembangunan Perbatasan Krayan (LP4K), Helmi Pudaaslikar kepada Radar Tarakan. Menurutnya hal ini bisa menjadi momentum alternatif baru, peluang pasar baru ke dalam negeri sendiri terbuka lebar.

Sejauh ini, sudah ada 11 sumur yang ditemukan punya potensi garam. Bahkan masih ada sumur lainnya yang sempat digunakan di zaman dahulu. Namun potensi garam yang rendah menjadikan leluhur warga Krayan meninggalkan sumur garam tersebut.

“Ada dua tempat yang lancar memproduksi garam saat ini, yakni pengolahan Pa’nado dan pengolahan Pa’kebuan. Di luar dua pengolahan ini, hanya memproduksi untuk keperluan kampung sendiri, tapi tentu bisa produksi untuk daerah lain juga,” ungkap Helmi saat ditemui, Kamis (18/3).

Di pengolahan Pa’nado sendiri, produksi garam dalam seharinya bisa mencapai 50 kilogram (kg). Garam diproduksi di dalam 2 tungku masing-masing dengan berat 25 kg. Garam yang diproduksi, notabene dipasarkan ke Malaysia hingga Brunei Darussalam. Namun, semenjak lockdown Malaysia, pengolahan jarang lagi dilakukan. “Nah, keadaan ini seharusnya menjadi momentum alternatif baru, ada peluang pasar baru ke dalam negeri sendiri,” ujar Helmi.

Melihat petani garam yang berusaha untuk memproduksi, memberikan Helmi dorongan memasarkan dalam negeri. Akhirnya Helmi pun pernah menjual garam mereka di Nunukan. Tak disangka penjualannya sangat laris. Bahkan, menempuh penjualan secara online juga sudah dilakukan Helmi, alhasil menarik animo dari luar daerah. Warga di Jakarta, Yogyakarta hingga Samarinda, pernah pesan kepada dirinya.

“Artinya ini bisa menjadi alternatif pasar baru untuk mereka, persoalan kendala, bisa kami pikirkan serius, pasti ada jalannya. Tinggal di pengelolaan dana APBD atau APBN saja,” tutur Helmi.

Kenapa mengacu ke pengelolaan dana APBD atau APBN. Sebab, pemerintah punya program jembatan udara oleh APBN dan SOA sembako oleh APBD. Dua program ini, notabene pesawat pengangkut drop sembako subsidi ke Krayan, lalu pulangnya, jika ingin membawa hasil bumi, itu digratiskan dan hanya dikenakan PNBP dengan tarif 1 kilogram hanya Rp 1.000.

“Jadi, itu saja yang bisa dikelola sebaik mungkin tata laksananya. Menurut kami bisa, meskipun masih ada kendala pengaturan kuota yang tidak diatur sehingga orang di sana bebas mengirim, akhirnya untuk yang diperdagangkan itu tidak banyak. Belum lagi keterbatasan jumlah penerbangan di program jembara atau SOA itu, jika kuota penerbangan habis, tidak bisalah kita berdagang lagi ke luar Krayan,” tambah Helmi.

potensi sumur garam terbesar sendiri, sebenarnya terletak di Desa Long Layu, ada dua sumber yang terletak di Ma'enalen dan Maenraya. Letak sumurnya juga berada di pinggir jalan tujuan kampung Pa’dali, Malaysia. Namun, jika ingin mencapai sumur tersebut, harus lalui perjalanan selama 8 jam dengan berjalan kaki. Akibat terkendala akses jalan inilah sumur garam terbesar tersebut jarang digunakan.

“Padahal sumber garamnya itu berasal dari celah gunungnya langsung, ada air yang mengalir tidak berhenti selama 24 jam. Air yang mengalir diberikan talang menuju wadah besar, hingga air ditampung dan menjadi kristal garam. Kita bayangkan, jika semua sumur yang ada memproduksi, surplusnya bisa mereka lempar ke luar daerah ke pasarnya,” beber Helmi. (raw/lim)

Editor : anggri-Radar Tarakan