Pandemi Covid-19 yang melanda telah membatasi aktivitas manusia dalam menjalankan rutinitas. Sehingga hal tersebut membuat sebagian orang jenuh terhadap kesulitan yang ada. Begitu juga yang dirasakan oleh 3 pemuda asal Kota Tarakan yakni Firly, Filman dan Farian.
NAMUN di balik kejenuhan di tengah pandemi Covid-19 akhirnya ketiga pemuda tersebut sukses menyalurkan hobi melalui grup musik dan menciptakan karya yang dapat diterima publik hingga skala nasional. Hal ini tentu menunjukkan jika kreativitas tidak akan mati dalam situasi apa pun.
Belakangan single mereka tersebar di berbagai platform musik yang berjudul serupa dengan nama band-nya, yakni “Derana”. Pada Jumat (8/7) lagu itu pun resmi diluncurkan perdana. Selaku pemuda asal Tarakan, Firly (vocal), Filman (gitar), dan Farian (gitar) dalam single-nya juga menggandeng musisi etnik asal Tarakan yang cukup dikenal karena sering tampil di ajang festival internasional yakni Adam Alydrus.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya single Derana mendapat tempat di telinga pecinta musik nasional.
Bersama Netrilis, single Derana masuk dalam daftar musik di platform layanan musik digital. Di antaranya, Spotify, Apple Music, JOOX, Deezer, YouTube Music, Langitmusik, Tiktok, Resso dan lainnya.
Sehingga tidak mengherankan, jika nama band asal Tarakan ini semakin melejit di industri nasional. Firly sang vokalis, menceritakan tema besar perihal ketabahan dalam menghadapi sesuatu. Lagu ini menggambarkan ketabahan pada manusia yang didera cobaan. Sehingga lagu tersebut memiliki hubungan erat dengan masa pandemi Covid-19 yang dirasakan saat pembuatannya. Meski masa pandemi melahirkan kesulitan masyarakat, namun di sisi lain kondisi tersebut melahirkan inspirasi sebagian orang untuk berkarya.
“Terbentuknya setahun yang lalu pas di masa pandemi Covid-19. Karena sering ngumpul di sini, akhirnya kita punya ide untuk buat lagu bareng-bareng, pas masa pandemi juga, terus melihat kondisi ini kita mencoba untuk tabah,” tukasnya.
Meski awalnya hanya dibuat untuk menyalurkan hobi. Namun ia tidak menyangka jika hal tersebut menimbulkan respons positif pecinta musik. Tentunya, dengan mendapat respon positif dan telah didengar puluhan ribu masyarakat ia cukup bersyukur dapat melahirkan hal menginspiratif kepada masyarakat.
“Pertama kita mikirnya tidak ada ekspektasi untuk mencari sesuatu di luar dari menyalurkan karya. Intinya kami di sini cuma ngumpul akhirnya timbul ide membuat lagu. Nantinya ini mau dibawa ke mana, yang penting kita dokumentasi saja dulu,” tukasnya.
“Kalau berbicara genre, ini sebenarnya kita masih dalam proses mencari jati diri. Mungkin kelihatannya lebih kepada pop akustik,” sambungnya. Selain itu, sebagai pemuda Kaltara, Derana menggaet Adam Alaydrus yang notabene sebagai musisi etnik internasional dalam memperkenalkan instrumen musik Kaltara dengan sappe, alat musik khas dari Kaltara.
“Karena kami juga melihat potensi pada Adam Alaydrus ini sehingga ini membuat kami cukup tertarik. Sekaligus kami juga membawa budaya etnik Kaltara kepada industri musik nasional,” tuturnya.
Sementara itu, Filman sang gitaris menerangkan, meski Tarakan merupakan daerah yang jauh dari ibu kota, namun perkembangan zaman membuat manusia semakin muda dalam menyalurkan karya. Sehingga menurutnya geografis bukanlah batas untuk menggapai eksistensi dalam berseni.
“Kalau melihat potensi, walaupun posisi kita di daerah, tapi Youtube ini sudah dapat dijangkau semua orang. Sehingga apapun karya yang kita lakukan itu bisa langsung menyentuh penikmatnya. Karena dengan internet semua orang dapat menjangkau sesuatu yang ia sukai. Termasuk musik,” terangnya.
“Ke depannya kita tidak tahu, ke depannya karya kami diterima atau tidak, tapi kami tetap akan menyalurkan hobi positif kami. Karena selama ini respon pendengar bisa dikatakan cukup baik,” lanjutnya. Tentunya, sebagai band lokal yang mendapat panggung di skala nasional, Derana berharap semoga hal tersebut dapat menjadi pemicu lahirnya karya-karya lokal lainnya untuk membawa nama Kota Tarakan dan Kaltara agar semakin dikenal dalam skala nasional.
“Harapan saya pribadi, adalah saya tetap bisa menyalurkan hobi dan karya terlepas itu dapat diterima atau tidak. Cuma ini semoga bisa menjadi triger musisi di Tarakan untuk tidak takut berkarya dan tampil,” tambahnya. (*/zac/lim)
Editor : izak-Indra Zakaria