MENINDAKLANJUTI penanganan banjir di Kecamatan Lumbis, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan terus melakukan kajian hingga Rabu (5/1). Selain itu, sebagian logistik sudah dikirim ke Sembakung sejak Rabu (5/1) pagi, untuk antisipasi kebutuhan mendadak masyarakat desa yang terdampak banjir.
Kepala BPBD Nunukan, M. Amin mengatakan, berdasarkan data dan informasi di lapangan, baik dari personel BPBD yang berada di pos masing-masing kecamatan dan informasi dari pihak kecamatan, ada beberapa kecamatan yang dilanda banjir kiriman dari Malaysia mulai dari Kecamatan Lumbis, Lumbis Hulu, Lumbis Pansiangan, Lumbis Ogong dan sejumlah desa di Kecamatan Sembakung Atulai.
“Ya, banjir ini memang bisa dikatakan banjir yang setiap tahunnya terjadi di daerah tersebut. Sekian kecamatan itu, selalu terdampak luapan air sungai,” ungkap M. Amin kepada Radar Tarakan, Rabu (5/1).
Menindaklanjuti bencana tersebut, koordinasi terus dilakukan dengan personel BPBD di Lumbis dan pihak Kecamatan Lumbis demi mendapatkan informasi yang lebih valid. Itu dilakukan untuk menyimpulkan rekomendasi yang akan disampaikan ke Bupati Nunukan, dalam hal penentuan status. “Ya, dari situ kami kaji lagi nanti, bagaimana penanganan status banjir ini, apakah statusnya penanganan biasa, atau status siaga darurat atau status tanggap darurat bencana, itu tergantung dari pada hasil kajian bencana nantinya,” tambah Amin.
Kajian menjadi standar penanggulangan bencana. Tim cepat tanggap langsung turun melakukan kajian sejauh mana kondisi di lapangan. Semua data akan dihimpun, baik dari data wilayah desa dan kecamatan mana saja yang terdampak, kemudian data keluarga yang terdampak dan data faktor lain yang menjadi bagian dari pada kajian itu. Hasil dari pada kajian itulah yang menjadi bahan pengambilan keputusan lebih lanjut.
Sejauh ini, perkembangan di lapangan, tinggi air sungai yang meluap ke sejumlah kecamatan variatif tingginya. Namun, personel mengacu pada patokan Jembatan Merah Putih di Lumbis Pansiangan, tinggi air sungai sudah naik mencapai 10 meter.
“10 meter ini, dari dasar sungai, kalau normalnya kan rata-rata 6 sampai 7 meter. Di sana ada personel yang setiap jam kami minta update ketinggian airnya, yang jelas ada kenaikan beberapa meter dari batas normal. Namun kita tau, kenaikan air sungai yang meluap ini, bisa cepat surut kalau intensitas hujan turun, itu perkembangannya,” kata Amin.
Amin memastikan, seluruh personelnya sudah bergeser ke daerah yang terdampak banjir untuk menyalurkan bantuan lebih efektif kepada masyarakat yang sangat terdampak banjir. Armada perahukaret diturunkan demi meringankan beban masyarakat.
Bahkan, logistik juga sudah dikirim ke Lumbis sejak Rabu (5/1) misalnya seperti beras sebanyak 500 kg, sudah dikirim ke Lumbis dan Sembakung. Pendataan keluarga yang terdampak juga masih terus berjalan. “Ya, data rumah dan keluarga yang terdampak, belum seluruhnya masuk, yang jelas di Lumbis Hulu dan Lumbis induk itu ada 19 desa yang terdampak, dua kecamatan itu yang paling terdampak banjir. Kemudian Lumbis Ogong sudah terdata 16 desa yang terdampak, terus Lumbis Pansiangan belum ada laporan, terakhir Sembakung Atulai juga belum masuk datanya,” beber Amin.
AIR TELAH SURUT
Di Malinau, meski air telah surut sejak Rabu (5/1) subuh, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi masih akan berpotensi banjir beberapa hari ke depan. Air laut saat ini sedang pasang dan ditambah lagi dengan curah hujan di Kabupaten Malinau selama Januari ini sedang-lebat.
Forecaster Pos Meteorologi Malinau BMKG Tanjung Harapan, Qudarul Laukhim Makhfud mengatakan dalam Januari ini, Kabupaten Malinau mempunyai curah hujan lumayan tinggi. Curah hujan di Malinau dan sekitarnya mempunyai intensitas curah hujan sedang-lebat.
“Khususnya wilayah Kalimantan Utara juga demikian. Intensitas curah hujan selama Januari hingga awal Februari intensitasnya sedang-lebat,” kata Makhfud saat diwawancarai Radar Tarakan melalui telepon seluler pada Rabu (5/1).
Ia menambahkan kondisi ini dapat membuat Malinau berpotensi banjir. Pada kalender BMKG, air laut juga mengalami pasang. “Jika air laut tidak pasang, meski intensitas curah hujan tinggi khususnya di wilayah Kabupaten Malinau dan sekitarnya tidak akan terjadi banjir. Namun saat ini dalam kalender BMKG, air laut sedang pasang, dengan curah hujan di Kabupaten Malinau dan sekitarnya yang intensitasnya sedang-lebat, maka sangat berpotensi banjir,” tambahnya.
Camat Mentarang Hulu, Juari Lakai mengatakan, musibah banjir yang terjadi di wilayahnya kini telah mulai surut. Meski demikian ia tetap memastikan seluruh pihak terkait tetap waspada. “Kemarin sore sudah mulai suruh. Tadi pagi sudah tidak ada lagi air di bawah kolong rumah warga. Puji Tuhan, saat ini sudah mulai membaik dan masyarakat beraktivitas seperti biasa,” kata Juari.
Juari mengaku sejumlah desa di Kecamatan Mentarang Hulu terkena dampak musibah banjir sejak Senin malam (3/1). Sebelumnya, terjadi hujan sangat lebat di wilayah hulu dua sungai yang ada di Kecamatan Mentarang Hulu sehingga air pun meluap ke daratan.
Menurutnya, jika di bagian hulu sungai tidak terjadi hujan lebat, maka air yang merendam sebelumnya mulai surut. Namun untuk bagian hilir sungai harus tetap waspada lantaran air yang menguap tadi akan mengalir ke wilayah hilir. “Kebiasaan jika banjir, meski air sudah surut di hulu. Maka wilayah hilir akan terendam banjir. Untuk banjir di wilayah hulu, sudah sampai ke lantai rumah masyarakat,” tambahnya.
Juari menyebutkan banjir tertinggi di Kecamatan Mentarang Hulu di antaranya Long Kebinu, Long Berang, Long Mengkatip dan Long Sulit. Kecamatan Mentarang Hulu terdapat dua sungai di dalamnya, pada musibah banjir yang terjadi di Desa Long Mengkatip dan Desa Long Berang merupakan banjir dari Sungai Mentarang. Sedangkan musibah banjir yang terjadi di Desa Long Sulit merupakan luapan air dari Sungai Krayan.
“Kedua sungai tersebut menguap ke daratan semua. Itu saja yang kita takutkan, jika malam ini hujan ditambah air laut pasang, bisa jadi Malinau akan banjir besar. Meski hujan lebat, namun air laut tidak pasang, aman tuh. Jadi air sungai yang meluap hanya lewat aja,” tutupnya.
Berdasarkan pantauan Radar Tarakan, pada bagian wilayah hilir telah mulai terdampak akibat menguapnya air sungai di bagian hulu. Wilayah bagian hilir termasuk pusat Kabupaten Malinau, luapan air telah sampai ke daratan. Namun saat ini, wilayah pusat Kabupaten Malinau telah surut kembali. Hingga pada 16.00 WITA, air yang meluap di beberapa wilayah pusat kabupaten kini telah tiada. (raw/*/hai/lim)
Editor : izak-Indra Zakaria