Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Buah Musiman Banjir, Harga Semangka ‘Terjun Bebas’

anggri-Radar Tarakan • 2022-01-19 15:50:32
KALAH SAING: Banjir buah musiman membuat harga semangka lokal Bulungan turun drastis hingga Rp 5 ribu per kg./PIJAI PASARIJA/RADAR TARAKAN
KALAH SAING: Banjir buah musiman membuat harga semangka lokal Bulungan turun drastis hingga Rp 5 ribu per kg./PIJAI PASARIJA/RADAR TARAKAN

TANJUNG SELOR – Sejak beberapa pekan terakhir harga semangka petani lokal Bulungan ‘terjun bebas’ menyentuh Rp 5 ribu per kilogram. Kondisi ini disebabkan Bulungan ‘kebanjiran’ buah musiman lokal seperti rambutan, durian, cempedak dan elai.

Salah seorang pengepul buah semangka lokal Bulungan, Anes mengaku terpaksa menjual langsung karena para pedagang buah menolak menerima semangka, lebih memilih buah musiman seperti durian.
“Saya cuma membantu petani semangka di Desa Apung, Tanjung Selor saja, agar hasil panen mereka bisa dijual. Karena tidak ada pedagang yang mau ambil semangka,” kata Anes kepada Radar Tarakan di lokasi tempatnya berjualan di Simpang Jalan Cempedak-Jalan Jeruk, Tanjung Selor, tadi siang (19/1/2022).
Termasuk, sambung dia, pedagang buah di Tarakan, karena semangka dari Palu, Sulawesi Tengah juga masuk ke Bumi Paguntaka sehingga menolak tawaran semangka asal Bulungan. “Mau ndak mau kita jual langsung ke konsumen, tentu dengan harga murah,” ujarnya.
Ia mengaku sempat menjual semangka yang diperoleh dari dua petani di Desa Apung Rp 6 ribu per kg. Namun harga tersebut belum mampu menarik pembeli hingga akhirnya diturunkan menjadi Rp 5 ribu per kg. “Kalau harga normal di tingkat pengecer bisa Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu per kg. Kalau harga saya ke pedagang biasanya Rp 6.500 per kilogram,” katanya.
Harga murah terpaksa diberikan untuk menghindari semangka tak laku terjual. Apalagi stok buah semangka petani lokal cukup banyak.”Sekarang musim panen, ada 4 petani tempat saya mengambil semangka di Apung,” ujarnya.
Saat ini stok semangka yang ia jual sebanyak 7,5 ton dan ditargetkan dalam dua hari habis. Karena pada tanggal 21 Januari petani kembali panen sekitar 14 ton dan pada 27 Januari sekitar 8 ton. “Stok yang begitu banyak ini harus habis terjual, kasian para petani kalau semangkanya tak terserap,” imbuhnya.
Terlepas dari persoalan tersebut, ia mengatakan beberapa tahun terakhir produksi semangka lokal mulai meningkat signifikan. Bahkan buah yang bisa dipanen dua bulan sekali ini mampu memenuhi kebutuhan buah semangka di Tanjung Selor dan sekitarnya.
“Kalau dulu sekali panen hanya 4 ton, tapi sekarang seiring dengan adanya ilmu dan teknologi, sekali panen bisa sampai 10 ton, buahnya juga dijamin manis,” bebernya.
Saat ini hanya keadaan yang membuat pasar semangka di Bulungan sulit sehingga harus menjual semangka dengan harga Rp 5 ribu per kg.”Sebenarnya untuk pemasaran tidak ada masalah, hanya keadaannya saja yang bertepatan dengan buah musiman, sehingga banyak masyarakat yang lebih memilih buah musiman daripada semangka,” tutup pria yang mengaku sudah 12 tahun berprofesi sebagai pengepul buah semangka lokal ini.(pij/ana)

Editor : anggri-Radar Tarakan