JENAZAH bayi berusia 3 bulan asal Desa Wa’Yagung di Krayan harus dimasukkan ke dalam drum demi memudahkan melewati genangan banjir, Kamis (21/9). Dalam sepekan terakhir warga Krayan mengalami kendala akses lantaran banjir.
Novliana, warga Krayan yang menyaksikan peristiwa itu mengaku, hal tersebut terpaksa harus dilakukan, karena bayi berinisial G tersebut, harus pulang ke desa bersama orang tuanya.
“Bayinya ini awalnya sakit, dibawa ke rumah sakit Kota Tarakan. Namun si bayi akhirnya meninggal dunia, jadi diterbangkan kembali ke Krayan. Saat itu menggunakan pesawat militer, kebetulan sedang ada misi penerbangan ke Krayan,” ujar Novliana ketika dihubungi, Kamis (21/9).
Jenazah tiba sekitar pukul 19.00 Wita, Rabu (21/9) dan dibawa pulang ke Wa’Yagung. Persoalan yang dihadapi, jembatan Long Umung di Krayan Timur terendam banjir, orang tua terpaksa bermalam di Long Umung.
Untuk menuju Wa’Yagung, dari pusat kota Krayan, dibutuhkan waktu sekitar 6 jam berjalan kaki, dan melewati sejumlah jembatan. Desa tersebut, berada di kedalaman hutan Krayan, dengan akses sulit dan terbatas.
Dulu untuk masuk Wa’Yagung hanya bisa dengan berjalan kaki, menembus hutan yang akrab dengan lintah daun. Saat ini, akses ke Wa’Yagung sudah bisa dilewati menggunakan sepeda motor, jika cuaca cerah.
“Kalau cuaca cerah, kita pakai motor bayar Rp 200.000 sampai Rp 300.000. Tapi sekarang musim hujan, paling jalan kali dan sesekali naik perahu, kalau harus menyeberangi jembatan,” ungkap Novliana.
Sejak Kamis pagi, sejumlah warga saling bantu untuk memudahkan kepulangan jenazah bayi tersebut. Novliana pun berharap, ini menjadi perhatian khusus untuk mempercepat pembangunan di wilayah perbatasan.
“Tentu kami berharap pembangunan dari pinggiran bisa benar-benar dirasakan. Jadi harus sangat diprioritaskan dan menjadi perhatian semua pihak, pemerintah daerah maupun pusat. Seperti ini, kalau ada bantuan perahu karet kan, tidak akan seperti itu, semoga ini tidak terulang lagi,” harap Novliana.
JEMBATAN DARURAT
Warga Krayan Tengah, Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) terus melakukan perbaikan dan pembuatan jembatan darurat secara swadaya pada beberapa lokasi jembatan yang putus dan hanyut di sekitar wilayahnya.
Informasi yang diterima Radar Tarakan, penanganan secara swadaya yang dilakukan masyarakat tersebut telah dilakukan sejak Rabu (20/9). Saat ini, sudah ada beberapa jembatan yang rusak dan jalan yang longsor selesai dikerjakan.
Camat Krayan Tengah, Marjuni mengatakan, kondisi kemarin (21/9) cuaca di daerahnya masih mendung, tapi tidak hujan. Jika tidak hujan, estimasinya perbaikan jembatan yang di Sungai Long Upit bisa selesai dikerjakan oleh masyarakat.
“Untuk jembatan di gorong Jalan Lingkar Krayan masuk lokasi Binuang yang longsor itu (Rabu 20 September 2023) sudah selesai dikerjakan,” ujar Marjuni saat dikonfirmasi melalui sambungan selulernya.
Tapi, lanjut Marjuni, untuk jembatan penghubung antara Desa Ba’ Liku dengan Desa Binuang yang hanyut akibat banjir hingga Kamis (21/9) masih terus dalam proses pengerjaan.
“Tadi sebelum saya berangkat dari Binuang ke Long Bawan naik pesawat, masyarakat sudah ke lokasi jembatan yang hanyut untuk lanjutkan melakukan pekerjaan kemarin yang belum selesai,” tuturnya.
Ia mengatakan, berdasarkan pantauan terakhir di lapangan, kondisi air sungai yang sebelumnya banjir saat ini sudah surut. Harapannya, tidak ada hujan lagi supaya air bisa benar-benar surut atau normal seperti biasa.
Melihat kondisi yang ada saat ini, tentu diharapkan pemerintah daerah melalui perangkat daerah terkait, dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPR-Perkim) dapat turun ke lapangan melihat persoalan ini secara langsung.
“DPUPR-Perkim harus turun ke lapangan untuk terus melakukan program dan laksanakan kegiatan perawatan serta peningkatan kualitas jalan Lingkar Krayan ini sampai layak dipakai,” harapnya.
“Setidaknya (peningkatan yang dilakukan) bisa sampai dengan pengerasan atau konstruksi agregat. Informasinya bahwa hari ini (kemarin, Red) tim dari DPUPR-Perkim ada turun ke Krayan,” sambungnya.
Untuk diketahui, penanganan kerusakan jalan Lingkar Krayan yang menjadi kewenangan provinsi itu sudah dianggarkan sebesar Rp 15 miliar melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) Kaltara 2023. (raw/iwk/lim)