Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Harga Cabai Asal Sulawesi di Nunukan, Meroket Rp 200 Ribu per Kg

izak-Indra Zakaria • 2023-12-28 12:05:53
arga cabai rawit yang didatangkan dari Sulawesi terus mengalami kenaikan hingga tembus Rp 200 ribu per kilogram.
arga cabai rawit yang didatangkan dari Sulawesi terus mengalami kenaikan hingga tembus Rp 200 ribu per kilogram.

Jelang pergantian tahun harga komoditas cabai rawit di pasar tradisional kembali naik. Tak tanggung-tanggung naiknya cabai mencapai Rp 20 ribu perkilogram. Jika sebelumnya harga cabai rawit ini Rp 180 ribu perkilogram kini naik mencapai Rp 200 ribu perkilogram.

Situasi ini diungkapkan Samsul, pedagang yang sehari-hari berjualan di Pasar Inhutani, Nunukan. Ia menceritakan, beberapa hari terakhir tingginya harga cabai rawit yang didatangkan dari Sulawesi semula Rp 150 ribu perkilogram.

“Memang naik beberapa kali dalam Desember ini. Pertama di harga Rp 150 ribu. Kemudian, berapa hari lalu naik menjadi Rp 180 ribu. Dan harga sekarang naik lagi hingga Rp 200 ribu,” ujar Samsul kepada Radar Tarakan, Rabu (27/12).

Ia menilai, salah satu faktor penyebabnya naiknya harga cabai rawit dikarenakan tingginya permintaan untuk kebutuhan rumah makan dan restoran. Selain itu, harga cabai yang di datangkan dari Sulawesi belum menunjukkan penurunan harga. 

Sebab, sejumlah daerah penghasil di Sulawesi mengalami kekeringan. “Penyebabnya utamanya karena sejumlah daerah pertanian di Sulawesi Selatan mengalami kekeringan,” ungkapnya.

Sementara, Fungsional Pengendalian Barang Dalam Negeri, Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Perindustrian dan Perdagangan (DKUMKPP) Nunukan Abdul Rahman menambahkan, kenaikan harga sejumlah barang pokok penting di Nunukan diakibatkan fenomena El Nino yang masih melanda sejumlah daerah di Indonesia. Khususnya, daerah penghasil pertanian di Sulawesi Selatan.

“Kondisi yang terjadi karena daerah penghasil pertanian seperti cabai merasakan gagal panen. Sehingga, pedagang besar di Sulawesi Selatan menaikkan harga jualnya hingga Rp 150 ribu. Dengan harga tersebut naik jika sampai di Nunukan. Sebab, ada biaya pengiriman yang harus dikeluarkan” jelasnya. Karena kondisi ini, pihaknya berharap dampak fenomena El Nino tidak berlangsung lama. Apalagi, Januari 2024 mendatang daerah Sulawesi telah memasuki musim penghujan. Diharapkan, harga kembali normal dan stok cabai di Nunukan kembali aman.

Ia mengakui, hasil produksi cabai lokal saat ini belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebab, jumlah cabai lokal terbilang minim. Selain itu, harga juga cukup tinggi dibandingkan dengan harga cabai asal Sulawesi.

“Produksi hasil cabai pertanian lokal belum bisa mencukupi kebutuhan masyarakat. Sehingga, didatangkan dari Sulawesi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” pungkasnya. (akz/ana)

 

 
 
Editor : izak-Indra Zakaria