Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bedah Prasasti hingga Menulis di Daun Lontar

uki-Berau Post • 2024-01-15 21:30:09
LESTARIKAN BUDAYA: Dari kiri, Rifatul Hasanah, Andri Setyo Nugroho, dan Aditya Sukma Caesara saat menulis aksara Jawa kuno di daun lontar.
LESTARIKAN BUDAYA: Dari kiri, Rifatul Hasanah, Andri Setyo Nugroho, dan Aditya Sukma Caesara saat menulis aksara Jawa kuno di daun lontar.

Bahasa Jawa merupakan salah satu pelajaran muatan lokal di sekolah. Meski begitu, tak banyak yang paham mengenai aksara Jawa, terutama aksara Jawa kuno. Rumah Budaya Sidoarjo berusaha memfasilitasi dengan adanya kelas aksara Jawa kuno secara gratis.

 

ADINDA WAHYU AZMARANI, Sidoarjo

 

KELAS aksara Jawa kuno dimulai oleh Andri Setyo Nugroho, alumnus Jurusan Sejarah Universitas Airlangga. Andri mengungkapkan, pengetahuan soal aksara Jawa kuno didapatnya dari Gunawan A. Sambodo.

“Sebelum pandemi, Mbah Gun memberikan kelas aksara Jawa kuno di Museum Mpu Tantular,” katanya saat dijumpai pada akhir pekan lalu.

Kelas berlangsung sebulan sekali, menyesuaikan jadwal Mbah Gun yang kerap berpindah-pindah. Namun saat pandemi, kelas itu terpaksa hiatus. Mbah Gun pun tidak bisa lagi bolak-balik dari rumahnya di Temanggung, Jawa Tengah, untuk mengajar.

Andri meminta izin kepada Mbah Gun untuk membuka kelas baru di Rumah Budaya Sidoarjo sejak 2022. Hal itu pun disambut baik oleh Satriagama Rakantaseta selaku pendiri dan pengelola rumah tersebut.

Sejak itu, Andri konsisten mengajar aksara Jawa kuno dua pekan sekali. Dia pun menggandeng beberapa orang yang cukup ahli dalam aksara Jawa kuno. Di antaranya, Aditya Sukma Caesara, Rifa’tul Hasanah, Azzana Alfanny Putri, dan Andini Rahmady.

Siapa saja boleh ikut, hanya harus konsisten. Sebab, satu sesi berlangsung selama enam bulan. “Kita agak ketat, peserta wajib hadir di tiga pertemuan pertama karena itu penting,” lanjut Aditya. Saat tiga pertemuan pertama mempelajari aksara, aksara konsonan, dan aksara vokal.

Setelah itu, berlanjut ke materi cara membaca hingga mengaplikasikannya di kehidupan nyata. “Beberapa daerah di Jawa kan sekarang mulai memberi nama jalan dengan aksara Jawa kuno, itu sejalan dengan misi pelestarian yang kami junjung,” ucap Andri.

Yang menarik, pembelajaran dibuat lebih seru, tidak kaku seperti sekolah formal. Interaksi pengajar dan murid bersifat dua arah dan santai. Di tengah semester masuk implementasi materi dengan membedah artefak arkeologi, misalnya prasasti.

“Aksara Jawa kan diajarkan di SD, tapi kenapa kita tidak bisa membaca prasasti? Karena prasasti pakai aksara Jawa kuno, sangat berbeda dengan aksara Jawa biasa,” papar Andri.

Prasasti yang diulas itu tidak berupa prasasti asli, melainkan dalam bentuk faksimili yang telah dicetak di kertas. Tidak sekadar membaca kalimat, kelas tersebut juga mempelajari bagaimana unsur penanggalan pada zaman itu. “Misalnya, di prasasti itu memuat kutukan, kita bisa membaca langsung teks kutukan itu, lalu bersama-sama mengartikannya,” katanya.

Setiap pertemuan memuat topik yang berbeda. Pada Minggu (7/1) lalu yang merupakan pertemuan terakhir semester II kelas tersebut, para murid belajar menulis aksara Jawa kuno di daun lontar.

Lontar merupakan salah satu media tulis masyarakat Jawa kuno. “Ada tiga jenis media tulis prasasti, yakni batu atau biasa disebut upala, lalu tamra yaitu prasasti yang ditulis di media logam seperti tembaga, dan ripta, prasasti di media lontar atau nipah,” terang Andri.

Dengan cara interaktif, pembelajaran aksara Jawa kuno menjadi jauh lebih menyenangkan. Bahkan, kelas itu bisa dijadikan sarana hiburan di akhir pekan.

Kelas itu tidak dipungut biaya apa pun, kecuali jika ada keperluan khusus. Misalnya, untuk nipah dan pengrupak, peserta akan dikenai biaya untuk membeli alat-alat tersebut. Andri dan para pengajar lainnya berharap peserta semakin banyak dan konsisten. Hal itu menjadi tantangan tersendiri karena beberapa peserta ”gugur” lantaran sibuk dengan keperluan lainnya.

“Saya punya komitmen tidak akan pernah belajar kebudayaan asing sebelum memahami betul kebudayaan saya sendiri, salah satunya bahasa dan aksara Jawa kuno,” ucap Andri yang saat ini menempuh pendidikan magister sejarah di Universitas Gadjah Mada.

Di sisi lain, Rumah Budaya Sidoarjo juga tengah menggelar program kelas khusus Nawasena. Program itu memanggil para seniman yang di daerahnya ada peninggalan budaya berupa prasasti atau apa pun yang berkaitan dengan aksara Jawa kuno.

Seniman tersebut kemudian akan mengikuti kelas aksara Jawa kuno selama empat kali pertemuan. Setelah itu, mereka akan menghasilkan karya dengan beragam medium rupa dan dipamerkan. Pendaftaran program Nawasena berlangsung pada 9–24 Januari mendatang. (*/c6/ai/jpg/uno)

Editor : uki-Berau Post
#feature