KEBERADAAN badut kecil seperti anak-anak kembali beredar di seputaran jalan protokol bahkan di sejumlah toko di Nunukan. Kostum badut berbagai bentuk kembali mereka gunakan.
Itu membuat pekerjaan baru kembali bagi Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan (DSP3A) Nunukan. Kepala DSP3A Nunukan, Faridah Ariyani tidak menampik keberadaan mereka.
Faridah menduga, keberadaan badut anak-anak yang kembali berkeliaran di Nunukan diduga bukan lagi dari masyarakat Nunukan. Karena persoalan anak pengguna kostum badut telah ditangani di tahun 2022 lalu.
Faridah menjelaskan, saat itu personel penyuluh sosial masyarakat (pensosmas) harus turun ke lapangan menangani anak-anak pengguna kostum badut tersebut. Setidaknya didapatkan sebanyak 6 anak yang melakukan pekerjaan itu, dengan meminta-minta, menyodorkan kotak untuk diberikan uang di sejumlah jalan protokol. Terdata mereka merupakan anak-anak asli Nunukan yang masih bersekolah.
“Kami sampai tanyakan, kenapa kerja seperti itu, mereka ngakunya ingin beli sepeda, kita belikanlah sepeda, kemudian ada orang tuanya yang ingin berjualan, kami berikan bantuan untuk berjualan, termasuk prasarana sekolah anak-anak tersebut,” ungkap Faridah ketika diwawancarai, Selasa (6/2).
Penangan awal, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak Satpol PP untuk kembali menangkap para badut-badut tersebut. Faridah meyakini, para badut tersebut bukan orang Nunukan melainkan dari luar Nunukan.
Sejauh ini, pihaknya telah melihat sebagian yang mereka sebut gepeng (gelandangan dan pengemis) bertopeng tersebut, berada di sejumlah lokasi, khususnya beredar di sejumlah pasar-pasar.
“Nantinya setelah ditangkap, biasanya diserahkan ke polisi, apakah nanti ada cukongnya kita belum tau, tapi biasanya ada cukongnya, yang jelas ini baru lagi, bukan yang sudah pernah dapat bantuan ya,” kata Faridah.
“Harusnya jangan diberikan, cuma karena kita berhati nurani terkadang kasihan dan memberikan juga, apalagi warga Nunukan sangat enteng memberikan, bahkan uang Rp 2 ribu kita ikhlas berikan, uang seribu pun tidak ada harganya di Nunukan, cuman kita tetap kasihan memberikan mereka, padahal kita tahu mereka sebenarnya pengemis bertopeng,” beber Faridah. (raw/lim)