Penggunaan nama Tarakan di Jakarta, terutama yang melekat pada institusi kesehatan besar seperti RSUD Tarakan, sering kali memicu pertanyaan mengenai keterkaitannya dengan kota di Kalimantan Utara tersebut. Namun, eksistensi nama Tarakan di ibu kota sebenarnya bukan merujuk pada arus migrasi besar-besaran penduduknya, melainkan erat kaitannya dengan sejarah panjang tata kota dan sistem penamaan wilayah atau toponimi yang diterapkan oleh Pemerintah DKI Jakarta.
Salah satu alasan utama dominasi nama ini adalah tradisi unik dalam penamaan jalan di Jakarta yang menggunakan tema kewilayahan. Kawasan Cideng di Jakarta Pusat, tempat RSUD Tarakan berdiri, merupakan area yang secara khusus menggunakan tema nama-nama pulau dan kota dari Pulau Kalimantan. Hal ini menjelaskan mengapa di sekitar lokasi tersebut juga ditemukan nama jalan lain seperti Jalan Balikpapan, Jalan Samarinda, Jalan Sangasanga, Jalan Pontianak, hingga Jalan Singkawang. RSUD Tarakan sendiri akhirnya menyandang nama tersebut karena lokasinya yang tepat berada di Jalan Tarakan yang merupakan jalur utama di kawasan itu.
Selain faktor tata ruang, aspek historis dan militer juga memperkuat posisi nama Tarakan di Jakarta. Sebagai lokasi pertempuran krusial pada masa Perang Dunia II dan era awal kemerdekaan terkait perebutan ladang minyak, Tarakan memiliki nilai strategis yang tinggi dalam sejarah nasional. Pemberian nama ini di pusat pemerintahan merupakan bentuk penghormatan negara terhadap peran besar Tarakan dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa.
Kini, nama Tarakan semakin melekat dalam identitas keseharian warga Jakarta melalui sektor layanan publik. Popularitas RSUD Tarakan sebagai rumah sakit rujukan utama dan pusat layanan jantung nasional membuat nama ini sering terdengar, mulai dari pengumuman transportasi publik seperti halte Transjakarta hingga berita kesehatan nasional. Sinergi antara standarisasi tata ruang masa lalu dengan fungsi pelayanan publik saat inilah yang menjadikan nama Tarakan terus eksis dan dikenal luas oleh masyarakat di Jakarta. (*)
Editor : Indra Zakaria