Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Utara Kalimantan Diguncang Gempa, BMKG: Pengingat Kalimantan Tidak Sepenuhnya Bebas Gempa

Redaksi Prokal • 2026-01-18 14:00:00
ilustrasi gempa
ilustrasi gempa

TARAKAN – Wilayah Tenggara Pulau Tarakan diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 2,9 pada Kamis (15/1) dini hari pukul 01.09 WIB. Meski getarannya tergolong rendah dan tidak menimbulkan kerusakan, peristiwa ini menjadi catatan penting bagi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengingatkan masyarakat bahwa Pulau Kalimantan tetap memiliki aktivitas seismik yang aktif.

Kepala BMKG Tarakan, Muhammad Sulam Hilmi, menjelaskan bahwa pusat gempa berada di kedalaman dangkal sekitar 4 kilometer. Kedalaman ini menunjukkan adanya aktivitas tektonik pada kerak bumi. Sepanjang tahun 2025, BMKG mencatat telah terjadi ratusan gempa kecil di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara), namun sebagian besar tidak dirasakan oleh masyarakat karena energinya yang rendah.

"Indonesia berada di atas pertemuan lempeng aktif yang terus bergerak mencari posisi stabil. Pelepasan energi dari pergerakan inilah yang kita rasakan sebagai gempa. Meskipun skalanya sering kali kecil, aktivitas ini tetap terjadi hampir setiap tahun," ujar Hilmi saat dikonfirmasi, Kamis (15/1).

Menanggapi anggapan bahwa Kalimantan adalah wilayah yang sepenuhnya aman dari gempa, Hilmi memberikan klarifikasi penting. Ia menjelaskan bahwa dalam peta kerawanan gempa nasional, Kalimantan berada di "Ring 3" atau kasta terakhir. Artinya, potensi gempa memang ada namun frekuensinya jauh lebih rendah dibandingkan wilayah Sumatera atau Sulawesi. Hal ini disebabkan oleh keberadaan lempeng-lempeng kecil di daratan Kalimantan yang bahkan beberapa di antaranya belum terpetakan sepenuhnya.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab. Warga diharapkan tetap waspada dan memahami bahwa kesiapsiagaan bencana adalah hal penting di mana pun mereka berada di Indonesia.

"Informasi resmi melalui kanal BMKG adalah rujukan utama. Kami ingin masyarakat sadar bahwa potensi itu ada, sehingga kewaspadaan tetap terjaga tanpa harus merasa panik berlebihan," pungkasnya.(*)

Editor : Indra Zakaria