PROKAL.CO, TARAKAN- Kota Tarakan melewati tahun 2025 dengan catatan kewaspadaan yang amat tinggi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan melaporkan sebanyak 329 peristiwa bencana telah mengguncang wilayah ini selama setahun terakhir. Rentetan kejadian tersebut tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga membawa duka mendalam dengan laporan dua orang warga yang meninggal dunia akibat terjebak dalam musibah kebakaran dan tanah longsor di lokasi berbeda.
Berdasarkan data rekapitulasi, cuaca ekstrem menempati urutan teratas sebagai bencana paling dominan dengan total 114 kejadian. Amukan cuaca ini sering kali diikuti oleh tanah longsor yang tercatat sebanyak 64 kali, terutama di kawasan yang secara geografis memang rawan seperti Kampung Bugis, Gunung Lingkas, dan Juata Permai. Meskipun frekuensi banjir hanya terjadi tiga kali dan kebakaran hutan lahan relatif terkendali di angka 15 kejadian, namun dampak psikologis dan materiil bagi warga tetap menjadi perhatian serius pemerintah kota.
Dampak masif dari rentetan bencana ini menyentuh kehidupan 732 jiwa. Titik kritis terjadi pada November 2025 saat gempa bumi mengguncang Tarakan dan berdampak langsung pada 378 warga dalam satu waktu. Sementara itu, fenomena genangan air yang kerap menghantui wilayah Karanganyar dan Gunung Lingkas diketahui lebih banyak dipicu oleh faktor pasang air laut yang menghambat drainase, sehingga air hujan tidak dapat mengalir sempurna ke muara.
Menanggapi tingginya angka kejadian ini, Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, menegaskan bahwa langkah mitigasi kini menjadi prioritas utama. Pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan pascabencana, tetapi lebih mengedepankan edukasi dan langkah preventif. Pemasangan rambu peringatan di zona merah serta penguatan peran aparatur kelurahan dilakukan agar masyarakat memiliki kesiapsiagaan mandiri saat menghadapi situasi darurat. Kesadaran kolektif ini terbukti efektif dalam menekan angka kebakaran hutan dan lahan yang lebih terkendali dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Memasuki awal 2026, BPBD memperingatkan bahwa ancaman belum sepenuhnya mereda. Potensi cuaca ekstrem masih menghantui, terutama bagi mereka yang bermukim di lereng-lereng perbukitan dan kawasan pesisir. Warga diminta untuk tetap memantau informasi cuaca secara berkala dan segera melakukan evakuasi mandiri jika melihat tanda-tanda alam yang mencurigakan. Kewaspadaan dini menjadi kunci utama untuk memastikan bahwa catatan duka akibat bencana tidak kembali bertambah di masa mendatang. (*)
Editor : Indra Zakaria