Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Perjuangan di Balik Manisnya Durian Malinau: Menempuh Jalur Sungai dan Darat dari Lumbis Hulu

Redaksi Prokal • 2026-01-23 08:30:00
PERJALANAN: Ismail, pedagang durian yang menjual di Malinau, durian dibawa dari pedesaan Kabupaten Nunukan. (DIPA/RADAR TARAKAN)
PERJALANAN: Ismail, pedagang durian yang menjual di Malinau, durian dibawa dari pedesaan Kabupaten Nunukan. (DIPA/RADAR TARAKAN)

 

MALINAU – Di balik kelezatan buah durian yang dinikmati warga di pusat Kota Malinau, tersimpan kisah perjuangan para pedagang dalam menembus medan yang menantang. Ismail, salah satu pedagang durian asli Malinau yang sehari-hari mangkal di kawasan Pasar Buah Lama, mengungkapkan bahwa sebagian besar stok durian yang ia jual harus menempuh perjalanan panjang dari wilayah pedesaan Lumbis Hulu di Kabupaten Nunukan sebelum akhirnya tiba di pangkuan konsumen.

Proses distribusi durian ini dimulai langsung dari para petani di pelosok desa dengan harga beli di kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu per buah. Perjalanan berat dimulai saat durian-durian tersebut harus diangkut menggunakan perahu menyusuri sungai menuju pusat Mansalong. Jalur air ini memakan waktu tempuh sekitar 3 hingga 4 jam dengan biaya angkut yang cukup menguras kantong, yakni mencapai Rp 1 juta hingga Rp 3 juta per perahu tergantung pada kepadatan muatan yang dibawa.

Setibanya di Mansalong, logistik buah musiman ini tidak langsung berhenti. Durian harus segera dipindahkan ke mobil pikap untuk melanjutkan perjalanan darat menuju Kabupaten Malinau. Ismail menjelaskan bahwa durian asal Lumbis memiliki keunikan tersendiri dibandingkan durian lokal Malinau, di mana durian Lumbis umumnya sudah masak dengan warna daging buah yang kuning mencolok, sementara durian asli Malinau cenderung memiliki kulit yang masih hijau.

Meskipun permintaan cukup tinggi, Ismail mengaku keuntungan yang diperoleh tidaklah terlalu besar. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya operasional, terutama pada sektor transportasi sungai dan darat yang menjadi komponen modal terbesar. Baginya, satu muatan perahu penuh merupakan risiko besar yang harus diambil agar stok di lapaknya tetap terjaga, meski margin keuntungan yang didapat harus tergerus ongkos angkut yang mahal.

Selain durian kebun yang sudah umum dikenal, Ismail juga menawarkan durian hutan khas Kalimantan yang eksotis bernama durian Tetungun. Durian ini memiliki karakteristik unik dengan duri yang lebih panjang mencapai 3 sentimeter, daging buah yang lebih legit, serta kadar gas yang tidak menyengat dibandingkan durian biasa. Untuk durian Tetungun ini, ia mematok harga sekitar Rp 100 ribu untuk paket berisi 3 hingga 4 buah, sementara durian kebun biasa dibanderol mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 80 ribu per buah.

Aktivitas berjualan durian ini telah ditekuni Ismail selama hampir dua bulan terakhir, tepatnya sejak sebelum perayaan Natal tahun lalu. Setiap buah yang ia jajakan di pasar bukan hanya sekadar komoditas musiman bagi masyarakat, melainkan bukti nyata dari rantai distribusi yang panjang antara pedesaan dan perkotaan. Perjalanan melintasi arus sungai dan jalanan lintas kabupaten menjadi bumbu pelengkap di balik legitnya rasa durian yang kini membanjiri Kota Malinau.(*)

Editor : Indra Zakaria