TANJUNG SELOR – Provinsi ke-34 Indonesia, Kalimantan Utara (Kaltara), mencatatkan rekor populasi baru yang mengejutkan. Berdasarkan rekapitulasi data terbaru per Januari 2026, jumlah penduduk di provinsi termuda ini kini melonjak hingga menyentuh angka fantastis 778.086 jiwa. Fenomena fluktuasi data ini menjadi sinyal kuat pesatnya perkembangan wilayah di beranda utara NKRI.
Kepala Disdukcapil Kaltara, Sanusi, mengungkapkan bahwa struktur kependudukan saat ini didominasi oleh kaum pria dengan jumlah 407.386 jiwa, sementara kaum perempuan tercatat sebanyak 370.700 jiwa. Sebaran ratusan ribu nyawa ini terbagi di lima kabupaten/kota, dengan titik konsentrasi massa yang cukup kontras.
Kota Tarakan resmi mengukuhkan diri sebagai wilayah paling "sesak" sekaligus pusat gravitasi populasi di Kaltara dengan total 257.329 penduduk. Menyusul di belakangnya, Kabupaten Nunukan menampung 230.685 jiwa, disusul Bulungan (171.720 jiwa), Malinau (88.151 jiwa), dan Kabupaten Tana Tidung sebagai wilayah paling ramping dengan 30.201 jiwa.
"Data ini bersifat fluktuatif, angka bisa naik atau turun setiap detiknya karena urusan kependudukan terus berjalan dinamis," tegas Sanusi dalam konfirmasinya, Rabu (28/1).
Menghadapi lonjakan data yang masif ini, Disdukcapil Kaltara tidak tinggal diam. Sanusi menegaskan komitmennya untuk melakukan "invasi" pelayanan melalui strategi Jemput Bola. Tim akan dikerahkan langsung menyasar sekolah-sekolah dan pemukiman untuk melakukan percepatan perekaman KTP-el serta pemutakhiran data secara instan.
"Kami tidak ingin ada data yang kedaluwarsa. Data kependudukan yang akurat adalah 'jantung' dari perencanaan pembangunan dan kebijakan pemerintah. Jika datanya salah, kebijakannya bisa salah sasaran," tambahnya dengan nada serius.
Pemerintah mengimbau keras agar seluruh warga Kaltara tidak pasif. Masyarakat diminta melaporkan setiap peristiwa kependudukan—mulai dari kelahiran, perpindahan, hingga kematian—demi terciptanya data tunggal yang mutakhir. Kesadaran masyarakat kini menjadi kunci utama agar pelayanan publik di Bumi Benuanta dapat berjalan secara optimal dan presisi. (iwk/lim)
Editor : Indra Zakaria