NUNUKAN – Masyarakat Desa Tujung, Kecamatan Sembakung, kini terpaksa kehilangan sumber air bersih utama mereka. Sungai Tujung yang selama ini menjadi mata air kehidupan warga dilaporkan mengalami perubahan kondisi yang sangat memprihatinkan, sehingga tidak lagi aman untuk dikonsumsi maupun digunakan untuk keperluan sehari-hari.
Camat Sembakung, Agus Arif Darmawan, mengungkapkan bahwa indikasi pencemaran ini mulai terdeteksi sejak Senin (26/1). Berdasarkan laporan dari kepala desa setempat, kondisi air sungai berubah warna menjadi gelap dan pekat. Dampak yang paling nyata terlihat adalah banyaknya ikan yang ditemukan mati mengapung di sepanjang aliran sungai, yang memicu kekhawatiran besar di kalangan penduduk desa.
Dugaan kuat mengarah pada limbah hasil olahan pabrik kelapa sawit yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut. Meskipun jenis zat pencemar belum dipastikan melalui uji laboratorium, pola perubahan air dan dampaknya terhadap ekosistem sungai menunjukkan adanya buangan limbah industri yang masuk ke badan air. Warga yang sebelumnya sangat bergantung pada sungai ini kini tidak lagi berani menyentuh air tersebut karena takut akan dampak kesehatan yang mungkin ditimbulkan.
Merespons krisis lingkungan ini, Pemerintah Desa Tujung telah mengambil langkah cepat dengan berupaya memanggil manajemen PT BHP untuk dimintai pertanggungjawaban. Selain menuntut penjelasan teknis terkait dugaan kebocoran limbah, Kepala Desa Tujung juga telah melayangkan surat denda adat sebagai bentuk penegasan atas kerugian lingkungan dan sosial yang dialami masyarakat adat setempat.
Saat ini, pihak kecamatan dan desa masih menunggu kepastian dari manajemen perusahaan untuk melakukan pertemuan tatap muka di Desa Tujung. Pertemuan tersebut diharapkan dapat membuahkan solusi nyata, baik terkait pemulihan kondisi sungai maupun penyediaan akses air bersih darurat bagi warga yang terdampak, sembari memastikan insiden serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Editor : Indra Zakaria