Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Situasi Mencekam di Mamolo, Warga Buru dan Lumpuhkan Buaya Predator Usai Terkam Anak Kecil

Redaksi Prokal • 2026-02-02 11:20:00
PERBURUAN : Warga melakukan pencarian dan menangkap seekor buaya di perairan Mamolo usai adanya anak menjadi korban.
PERBURUAN : Warga melakukan pencarian dan menangkap seekor buaya di perairan Mamolo usai adanya anak menjadi korban.

 

 

NUNUKAN – Amarah dan keresahan warga Kampung Mamolo, Kelurahan Tanjung Harapan, memuncak setelah seorang anak berusia enam tahun menjadi korban keganasan buaya. Pada Minggu siang, 1 Februari 2026, puluhan warga berbondong-bondong melakukan penyisiran di perairan sekitar permukiman guna mencari predator yang telah meneror lingkungan mereka.

Perburuan tersebut membuahkan hasil sekitar pukul 15.00 WITA. Warga berhasil menemukan seekor buaya yang kerap menampakkan diri di lokasi aktivitas warga. Kamaruddin, salah seorang warga Mamolo, menceritakan proses pelumpuhan predator tersebut berlangsung dramatis. Buaya tersebut sempat memberikan perlawanan meski telah diparang berkali-kali. Petugas dan warga akhirnya terpaksa menggunakan senapan angin dan tombak hingga predator tersebut dinyatakan mati.

Kamaruddin menegaskan bahwa aksi massa ini merupakan bentuk pertahanan diri karena situasi dinilai sudah sangat meresahkan. Mayoritas penduduk Mamolo menggantungkan hidup sebagai nelayan dan pembudidaya rumput laut yang setiap hari bersentuhan langsung dengan air. Serangan yang menimpa bocah Marsel sehari sebelumnya dianggap sebagai puncak ketakutan warga yang selama ini merasa terancam saat bekerja.

Meskipun satu ekor buaya dengan panjang sekitar satu meter lebih telah dilumpuhkan, kecemasan warga belum sepenuhnya reda. Di perairan Mamolo dilaporkan masih banyak terdapat buaya lain dengan ukuran yang jauh lebih besar dan agresif. Intensitas kemunculan predator yang semakin dekat dengan lantai rumah panggung warga menjadi ancaman nyata yang menuntut penanganan segera dari pihak berwenang.

Merespons kejadian beruntun ini, pihak Kelurahan Tanjung Harapan telah menjadwalkan rapat koordinasi darurat pada Senin, 2 Februari 2026, untuk mencari solusi konkret terkait penanganan konflik satwa ini. Namun, warga mendesak agar pemerintah tidak hanya sekadar menggelar pertemuan, melainkan segera melakukan tindakan nyata di lapangan. Warga berharap adanya langkah evakuasi atau relokasi buaya secara sistematis agar tidak ada lagi korban jiwa di masa mendatang. (akz/jnr)

Editor : Indra Zakaria