TANJUNG SELOR – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara merilis data terbaru mengenai profil kemiskinan di Bumi Benuanta untuk periode September 2025. Secara akumulatif, jumlah penduduk miskin di Kalimantan Utara mengalami penurunan tipis sebesar 0,12 ribu jiwa jika dibandingkan dengan kondisi pada Maret 2025. Saat ini, persentase penduduk miskin berada di angka 5,47 persen atau setara dengan 42,45 ribu jiwa.
Meskipun secara total mengalami penurunan, Kepala BPS Kaltara, Mustaqim, menyoroti adanya fenomena anomali yang terjadi antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Berdasarkan rincian data, tingkat kemiskinan di perkotaan justru menunjukkan tren peningkatan yang cukup mencolok. Jumlah warga miskin di kota melonjak dari 25,56 ribu jiwa pada Maret menjadi 29,73 ribu jiwa pada September 2025, atau meningkat sekitar 4,16 ribu orang.
Kondisi sebaliknya terjadi di wilayah perdesaan yang mencatatkan prestasi penurunan kemiskinan cukup signifikan. Tingkat kemiskinan di desa merosot dari 5,98 persen menjadi 4,72 persen dalam kurun waktu enam bulan. Hal ini menyebabkan sebuah pembalikan situasi di mana untuk pertama kalinya tingkat kemiskinan di perdesaan Kaltara kini jauh lebih rendah dibandingkan dengan wilayah perkotaan.
Di sisi lain, biaya kebutuhan hidup yang direpresentasikan melalui Garis Kemiskinan (GK) terus mengalami kenaikan. Hingga September 2025, Garis Kemiskinan di Kaltara tercatat sebesar Rp 933.675 per kapita per bulan. Komponen makanan masih menjadi beban pengeluaran terbesar yang mendominasi pembentukan garis kemiskinan, dengan beras dan rokok sebagai komoditas penyumbang utama baik di kota maupun di desa.
Kenaikan garis kemiskinan yang lebih tinggi di perkotaan mencerminkan beban hidup masyarakat kota yang semakin berat, terutama akibat inflasi pada komoditas pangan pokok dan daging ayam. Data ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi strategi intervensi kemiskinan, terutama dalam meredam tekanan ekonomi di wilayah urban agar tidak semakin memperlebar jurang kesenjangan. (*)
Editor : Indra Zakaria