Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Tercekik Harga Kebutuhan, Desa Pujungan Desak Percepatan Akses Darat ke Pedalaman Malinau

Redaksi Prokal • 2026-02-16 14:30:00
ILUSTRASI: Proses peledakan Giram Baru yang menghambat mobilitas warga Pujungan dan Bahau Hulu sebagai satu-satu nya akses. (DIPA/RADAR TARAKAN)
ILUSTRASI: Proses peledakan Giram Baru yang menghambat mobilitas warga Pujungan dan Bahau Hulu sebagai satu-satu nya akses. (DIPA/RADAR TARAKAN)

MALINAU — Sebagai wilayah yang berada di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), Desa Pujungan di Kecamatan Long Pujungan kini tengah menghadapi persoalan pelik terkait tingginya harga kebutuhan pokok. Keterbatasan infrastruktur dan akses yang sangat terisolasi menjadi faktor utama yang melambungkan biaya hidup masyarakat di wilayah perbatasan Kabupaten Malinau tersebut.

Kepala Desa Pujungan, Wiratama Jalung, mengungkapkan bahwa kondisi geografis yang sulit dijangkau membuat pembangunan dan konektivitas ekonomi berjalan sangat lambat. Hingga saat ini, masyarakat masih sangat bergantung pada jalur sungai menggunakan longboat sebagai akses utama. Ketergantungan pada transportasi air ini berdampak langsung pada biaya logistik yang sangat tinggi, yang kemudian dibebankan pada harga jual barang di tingkat konsumen.

Salah satu contoh yang paling mencolok adalah harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menyentuh angka Rp20.000 per liter, jauh di atas harga resmi di wilayah perkotaan. Lonjakan harga ini tidak hanya terjadi pada bahan bakar, tetapi juga merembet ke komoditas sembako dan kebutuhan dasar lainnya. Menurut Wiratama, kondisi ini menjadi beban ekonomi yang sangat berat bagi warga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menyikapi situasi tersebut, pihak desa mendesak adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat untuk segera membuka dan memperbaiki akses jalan darat menuju Long Pujungan. Pembangunan badan jalan dinilai sebagai satu-satunya solusi jangka panjang yang mampu menekan biaya logistik secara signifikan. Jika akses darat terbuka, distribusi barang dipastikan akan lebih lancar, yang secara otomatis akan menurunkan harga kebutuhan pokok di wilayah pedalaman.

Sebagai Kepala Desa Pergantian Antar Waktu (PAW), Wiratama menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan kebutuhan infrastruktur dasar bagi warganya. Baginya, pembukaan akses darat bukan sekadar soal kemudahan bertransportasi, melainkan kunci utama untuk memerdekakan masyarakat pedalaman dari jerat harga tinggi serta menjadi penggerak vital bagi perkembangan ekonomi di wilayah perbatasan Indonesia tersebut. (*)

Editor : Indra Zakaria