TARAKAN – Dunia penerbangan nasional berselimut duka setelah pilot senior maskapai Pelita Air, Capt. Hendrik Lodewyck Adam, dipastikan meninggal dunia dalam insiden jatuhnya pesawat Air Tractor (AT-802) di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, Kamis (19/2/2026). Pilot tangguh ini menghembuskan napas terakhir di dalam kokpit saat menjalankan misi mulia mendistribusikan energi ke wilayah perbatasan Indonesia.
Kabar kepergian Capt. Hendrik memicu gelombang duka mendalam, terutama dari rekan-rekan seangkatannya di Course Penerbang 50 Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug. Satrio Dewandoro, salah satu sahabat almarhum, menyampaikan pesan perpisahan yang menyentuh melalui media sosial, mengenang sosok Hendrik sebagai pilot yang berdedikasi tinggi dan berpulang di tempat yang paling dicintainya, yakni angkasa. Almarhum merupakan alumni angkatan 1992 yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk menerbangi rute-rute menantang di tanah air.
Berdasarkan kronologi yang disampaikan Komandan Lanud Anang Busra, Marsma TNI Andreas A. Dhewo, pesawat dengan registrasi PK-PAA tersebut lepas landas dari Bandara Yuvai Semaring sekitar pukul 12.10 Wita. Pesawat baru saja menyelesaikan tugas menurunkan muatan BBM dan sedang dalam perjalanan kembali (ferry flight) menuju Tarakan tanpa muatan. Namun, cuaca yang dilaporkan hujan ringan dengan awan rendah menyelimuti wilayah perbukitan sesaat setelah pesawat memasuki fase pendakian.
Upaya penyelamatan berlangsung dramatis setelah komunikasi terputus dan sinyal Emergency Locator Transmitter (ELT) terdeteksi. Saksi mata di sekitar lokasi melihat pesawat turun dalam posisi miring sebelum asap hitam membumbung dari balik bukit. Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan warga setempat harus berjuang menembus hutan terjal selama 40 menit berjalan kaki untuk mencapai titik jatuh. Setibanya di lokasi, tim menemukan pesawat dalam kondisi terbakar dengan sang pilot masih berada di dalam kokpit.
Jenazah Capt. Hendrik Lodewyck Adam direncanakan akan diterbangkan dari Krayan menuju Tarakan pada Jumat (20/2/2026) setelah sebelumnya sempat disemayamkan di RS Pratama Krayan. Sementara itu, pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama maskapai akan segera memulai investigasi mendalam untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan di medan perbukitan yang menantang tersebut. Tragedi ini menjadi pengingat nyata atas risiko tinggi dan pengabdian luar biasa para pilot perintis yang menjadi tulang punggung logistik di pelosok negeri. (*)
Editor : Indra Zakaria