TARAKAN — Sektor rumput laut di Tarakan saat ini tengah menghadapi tantangan ganda yang cukup pelik. Tidak hanya persoalan harga yang fluktuatif, para pembudidaya kini harus berjuang melawan serangan hama teritip musiman serta struktur tata niaga yang dinilai terlalu panjang, sehingga menekan keuntungan di tingkat petani.
Kabid Budidaya Perikanan, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Perikanan Dinas Perikanan (DPK) Tarakan, Husna Ersant Dirgantara, mengungkapkan bahwa kemunculan teritip adalah siklus alam tahunan yang sulit dihindari. Organisme sejenis kerang kecil ini menempel kuat pada talus rumput laut, merusak kualitas hasil panen, dan menambah beban kerja petani karena harus dibersihkan secara manual.
Untuk menyiasati hal ini, pemerintah menyarankan langkah adaptasi daripada pembasmian kimia yang berisiko mencemari laut terbuka. Para pembudidaya diimbau melakukan pembersihan manual secara berkala dengan cara mengangkat tali bentangan setiap satu hingga dua minggu agar teritip yang masih lunak rontok terkena sinar matahari. Selain itu, mengubah kedalaman bentangan atau menunda masa tanam saat puncak musim hama menjadi opsi paling rasional guna menghindari kerugian lebih besar.
Di sisi ekonomi, harga rumput laut saat ini berada di kisaran Rp10.000 hingga Rp10.500 per kilogram. Namun, Husna Ersant mencatat adanya disparitas harga yang cukup mencolok berdasarkan kualitas pengeringan. Di wilayah Tanjung Pasir dan Tanjung Batu, harga bisa menembus Rp14.000 per kilogram karena kualitas kadar air yang lebih rendah.
Rendahnya harga di tingkat petani seringkali dipicu oleh kebutuhan perputaran modal yang cepat, sehingga petani terpaksa menjual hasil panen dalam kondisi masih lembap. Kondisi ini diperparah dengan rantai distribusi yang berlapis, mulai dari pengumpul kecil hingga pedagang antardaerah, yang mengakibatkan margin keuntungan bagi petani semakin menipis.
Sebagai langkah perbaikan tata niaga, Perumda Agribisnis mulai memfasilitasi pengiriman langsung ke industri pengolahan di luar daerah, seperti ke Pinrang, untuk mendapatkan harga yang lebih kompetitif. Namun, solusi jangka panjang tetap tertuju pada upaya hilirisasi di dalam daerah.
Kabar terbaru menyebutkan adanya penjajakan kerja sama dengan perusahaan asal Bali yang menawarkan teknologi pengolahan rumput laut cair melalui sistem pres. Berbeda dengan rencana pabrik chip yang terkendala biaya pengolahan limbah kimia yang tinggi, sistem ini memungkinkan pengolahan rumput laut dalam kondisi basah. (*)
Editor : Indra Zakaria