Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Misi Ungkap Tragedi Pesawat BBM di Krayan: KNKT Mulai Investigasi Tanpa Kotak Hitam

Redaksi Prokal • 2026-02-22 11:44:34

KNKT akan melakukan investigasi kecelakaan pesawat pengangkut BBM milik Pelita Air registrasi PK-PAA yang jatuh di Krayan, Kabupaten Nunukan. (ISTIMEWA)
KNKT akan melakukan investigasi kecelakaan pesawat pengangkut BBM milik Pelita Air registrasi PK-PAA yang jatuh di Krayan, Kabupaten Nunukan. (ISTIMEWA)

TARAKAN – Tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) resmi memulai langkah investigasi mendalam terkait jatuhnya pesawat pengangkut BBM milik Pelita Air di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan. Insiden yang melibatkan pesawat registrasi PK-PAA pada Kamis (19/2/2026) lalu ini menjadi perhatian serius, mengingat kecelakaan terjadi sesaat setelah sang pilot, Captain Hendrik Ludwig Adam, menuntaskan misi distribusi BBM Satu Harga di wilayah perbatasan Kalimantan Utara.

Dalam proses ini, KNKT menegaskan komitmennya untuk bekerja berdasarkan prinsip no blaming. Investigator keselamatan penerbangan KNKT, Voltha Herry, menjelaskan bahwa tujuan utama investigasi ini bukanlah untuk mencari pihak yang bersalah, melainkan murni demi peningkatan standar keselamatan penerbangan nasional di masa depan.

"Fokus kami adalah pembelajaran. Semua data akan dikumpulkan secara sistematis dan dianalisis secara mendalam agar kejadian serupa tidak terulang," ujar Voltha saat memberikan keterangan di Tarakan, Jumat (20/2/2026).

Investigasi kali ini memiliki tantangan teknis tersendiri. Pesawat jenis Air Tractor AT-802 tersebut memiliki bobot di bawah 5.700 kilogram, sehingga secara regulasi tidak diwajibkan memiliki Flight Data Recorder (FDR) maupun Cockpit Voice Recorder (CVR) atau yang akrab disebut kotak hitam. Tanpa rekaman parameter penerbangan dan percakapan kokpit, tim investigator harus bekerja ekstra keras mengandalkan sisa reruntuhan pesawat, dokumen teknis, serta data pelacakan dari perangkat Garmin yang ada di pesawat.

Kondisi medan di Krayan yang berbukit, licin, dan sulit dijangkau juga menjadi hambatan fisik bagi tim di lapangan. Hingga saat ini, lokasi jatuhnya pesawat masih disterilkan untuk menjaga keutuhan bukti-bukti fisik. Voltha menyebutkan bahwa timnya akan melakukan pemeriksaan mendalam terhadap setiap serpihan pesawat dan jejak penerbangan guna menyusun kronologi yang akurat.

Hasil kerja keras tim KNKT ini nantinya akan diterbitkan dalam dua tahap. Laporan awal yang berisi temuan fakta di lapangan dijadwalkan terbit dalam waktu satu bulan, sementara laporan final beserta rekomendasi keselamatan menyeluruh diperkirakan akan rampung dalam waktu satu tahun.

Tragedi ini diharapkan menjadi titik balik dalam mitigasi risiko penerbangan perintis, khususnya bagi maskapai yang melayani rute-rute sulit di wilayah perbatasan Indonesia. "Hasil investigasi ini nantinya menjadi panduan bagi seluruh stakeholder agar sistem keselamatan penerbangan kita semakin baik," pungkas Voltha. (*)

Editor : Indra Zakaria