TARAKAN — PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan bergerak cepat memberikan kepastian terkait ketersediaan energi di wilayah perbatasan pasca-insiden pesawat kargo di wilayah Pabettung, Krayan Timur. Meskipun sempat terjadi kecelakaan penerbangan kargo, distribusi BBM Satu Harga ke wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) tersebut dipastikan tetap berjalan normal tanpa kendala berarti.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, menegaskan bahwa langkah mitigasi telah dilakukan dengan sinergi intensif bersama PT Patra Logistik. Bahkan, pada hari Sabtu (21/2), pengiriman kembali dilakukan menggunakan armada pesawat jenis Air Tractor AT-802 untuk memasok produk Pertalite ke SPBU di Krayan.
“Alhamdulillah, berkat koordinasi dan best effort seluruh tim serta sinergi Pertamina Patra Niaga dan Patra Logistik, proses administrasi maupun operasional pengiriman berjalan lancar, sehingga supply BBM ke Krayan tetap terjaga,” ujar Edi Mangun dalam keterangan resminya, Minggu (22/2).
Edi juga menyampaikan rasa duka cita dan prihatin yang mendalam atas insiden yang menimpa pesawat kargo jenis Air Tractor AT-802 dengan registrasi PK-PAA tersebut. Ia menjelaskan bahwa pada saat kejadian, pesawat tersebut sebenarnya telah menuntaskan tugas mulianya mendistribusikan bahan bakar ke perbatasan.
“Pada pemantauan terakhir sebelum insiden, pesawat dilaporkan telah menyelesaikan misi distribusi BBM ke Long Bawan dan sedang dalam perjalanan kembali menuju Bandara Juwata Tarakan,” tutur Edi menjelaskan kronologi aktivitas pesawat sebelum hilang kontak.
Meskipun sedang berduka atas peristiwa tersebut, Pertamina tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan energi bagi masyarakat di garda depan Indonesia. Skema distribusi alternatif pun telah disiapkan agar tidak ada kekosongan stok di wilayah Krayan dan sekitarnya.
“Kami terus berkoordinasi dengan operator penerbangan, tim di lapangan, serta pihak berwenang guna memastikan setiap informasi yang disampaikan telah melalui proses verifikasi dan akurat,” jelas Edi menutup pernyataannya.
Kini, Pertamina menyerahkan sepenuhnya proses investigasi kepada otoritas berwenang sembari memastikan bahwa program BBM Satu Harga tetap berjalan demi akses energi yang adil bagi warga perbatasan. (*)
Editor : Indra Zakaria