PROKAL.CO- Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tarakan mendadak jadi buah bibir di tengah suasana Ramadan. Bukannya menu lengkap yang menggugah selera, unggahan media sosial memperlihatkan menu yang dinilai jauh dari kata mewah: beberapa biji rambutan, sebutir telur, emping, dan sepotong roti atau kue bolu. Pemandangan ini pun memicu pertanyaan besar di benak warga, "Apakah ini cukup untuk mencetak generasi unggul?"
Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kaltara, Maria Ulfah, angkat bicara dengan nada kritis mengenai fenomena menu "ajaib" ini. Ia memperingatkan agar program besar yang menguras APBN ini tidak sekadar menjadi ajang menggugurkan kewajiban. “Kalau tujuannya hanya memenuhi kewajiban, tiap hari ada makanan dibagikan, akhirnya ini bisa mengurangi kualitas. Siapa yang menentukan kandungan gizi makanan yang diberikan? Misalnya roti, tepungnya seperti apa, kandungannya bagaimana,” cetus Maria pada Selasa (24/2).
Menurut Maria, menu yang sempat viral tersebut memberikan kesan bahwa penyelenggara lebih mengutamakan daya tahan makanan daripada keseimbangan gizi. Ia menegaskan bahwa masyarakat berhak melayangkan kritik karena program ini berkaitan langsung dengan kesehatan anak. “Yang menerima makanan ini adalah calon generasi unggul. Tidak bisa dianggap sepele. Masyarakat berhak mempersoalkan menu MBG karena dilaksanakan dengan anggaran yang besar,” tambahnya.
Di sisi lain, Yayasan Cipta Generasi Berkualitas yang menaungi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Juata Laut langsung pasang badan. Sang ketua, Agus Salim, menegaskan bahwa semua hidangan diproduksi dari dapur sendiri dan sudah sesuai instruksi ahli gizi. Ia bahkan menyayangkan adanya oknum guru yang mengunggah foto tersebut tanpa konfirmasi terlebih dahulu.
“Ini dari dapur kami sendiri. Namun ada salah satu guru yang mem-posting sesuai versinya tanpa pernah melakukan konfirmasi terkait juknis yang sebenarnya,” tegas Agus. Ia membela diri dengan menyatakan bahwa timnya sudah berkreasi sesuai arahan tenaga profesional agar makanan tetap bergizi selama Ramadan. “Semua yang dihidangkan berasal dari instruksi ahli gizi yang kompeten. Tidak ada yang menyimpang dari juknis MBG,” pungkasnya.(*)
Editor : Indra Zakaria