PROKAL.CO- Di kedalaman hutan tropis Kalimantan, tepatnya di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), waktu seolah berhenti. Formasi batu-batu besar yang tersebar dari Kabupaten Nunukan hingga Malinau menjadi saksi bisu kejayaan tradisi megalitik masyarakat Dayak Ngorek yang telah bertahan lintas zaman. Struktur ini bukan sekadar tumpukan batu, melainkan kuburan kuno yang menyimpan nilai arkeologis dan spiritual yang mendalam.
Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, mengungkapkan bahwa peninggalan ini merupakan warisan berharga yang terus dijaga oleh masyarakat adat. "Kuburan batu ini memiliki nilai penting bagi masyarakat adat yang telah hidup sejak masa lampau dan hingga kini masih dirawat keberadaannya," ujar Seno melalui pernyataan resminya pada Selasa (24/2).
Berdasarkan kajian arkeologi, tradisi membangun monumen batu ini diperkirakan sudah muncul sejak 2.000 tahun yang lalu, mulai dari masa Neolitik Akhir hingga Zaman Logam Awal. Hebatnya, tradisi ini tetap eksis hingga abad ke-17. Di saat peradaban besar dunia mulai bersentuhan dengan modernitas, masyarakat Dayak Ngorek tetap setia pada ritual penghormatan leluhur dengan menggunakan lempengan batu besar untuk menyimpan erong, yakni peti jenazah kayu berukir melalui prosesi pemakaman sekunder.
Menariknya, situs-situs ini juga menjadi bukti bahwa masyarakat pedalaman Kalimantan di masa lalu tidak sepenuhnya terisolasi dari dunia luar. Penemuan fragmen keramik dan guci utuh asal Tiongkok dari era Dinasti Sung dan Ming menunjukkan adanya jalur perdagangan yang aktif. "Temuan ini memperlihatkan bahwa melalui rute tradisional, mereka menukarkan hasil hutan seperti emas dan sarang burung walet dengan barang-barang dari luar," jelas Seno.
Keberadaan situs seperti Kuburan Batu Long Berini kini mulai dikembangkan sebagai objek wisata sejarah dengan pengawasan ketat dari masyarakat adat demi menjaga kesakralannya. Bagi Seno, pelestarian ini adalah bentuk penghormatan terhadap komitmen leluhur dalam menjaga alam. "Masyarakat adat yang telah lama tinggal di dalam kawasan sangat mendukung kegiatan budaya maupun konservasi ini," tambahnya. Di tengah ancaman perubahan iklim dan penebangan liar, jejak batu di Kayan Mentarang ini menjadi pengingat kuat bahwa hubungan harmonis antara manusia dan alam Borneo telah terjalin erat sejak ratusan tahun silam. (*)
Editor : Indra Zakaria