Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Sunyi di Beranda Negeri: Nestapa Desa Long Bulu yang Terputus dari Listrik dan Sinyal

Redaksi Prokal • 2026-02-25 09:00:00

MINIM FASILITAS: Potret Desa Long Bulu, Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Kabupaten Nunukan, yang kehidupan berjalan dalam sunyi, tanpa sinyal telekomunikasi dan tanpa listrik yang stabil.
MINIM FASILITAS: Potret Desa Long Bulu, Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Kabupaten Nunukan, yang kehidupan berjalan dalam sunyi, tanpa sinyal telekomunikasi dan tanpa listrik yang stabil.

 

PROKAL.CO- Di ujung utara Kabupaten Nunukan, tepatnya di Desa Long Bulu, Kecamatan Lumbis Ogong, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di saat daerah lain sibuk dengan transformasi digital, warga di perbatasan Indonesia-Malaysia ini justru harus bergelut dengan kegelapan dan isolasi komunikasi. Desa yang hanya bisa dijangkau lewat jalur sungai ini praktis lumpuh saat matahari terbenam.

Ketidakhadiran listrik yang stabil membuat lilin dan lampu minyak menjadi kawan setia warga saat malam tiba. Hanya segelintir keluarga yang mampu menyalakan genset, itu pun harus berhitung dengan mahalnya biaya bahan bakar. “Kalau malam, aktivitas memang sangat terbatas. Kami mengandalkan lilin atau lampu minyak,” ujar Mastaryo, seorang pemuda Desa Long Bulu, pada Senin (23/2).

Kondisi memprihatinkan ini memukul sektor pendidikan paling telak. Tanpa penerangan memadai dan perangkat elektronik, siswa di Long Bulu dipaksa belajar dengan fasilitas seadanya. Kesenjangan digital pun semakin lebar karena akses internet yang nihil. “Kami tidak punya akses perpustakaan digital atau internet. Anak-anak sulit mengikuti perkembangan di luar,” keluh Mastaryo. Ia menambahkan bahwa administrasi desa pun masih dilakukan secara manual, bahkan untuk sekadar koordinasi dengan kecamatan, mereka harus menitipkan pesan lewat warga yang menempuh perjalanan jauh ke wilayah yang bersinyal.

Ironisnya, desa ini sempat mencicipi kemudahan komunikasi melalui jaringan Telkomsel Bakti pada 2021. Namun, secercah harapan itu padam pada akhir 2024 saat jaringan tersebut berhenti beroperasi hingga saat ini. Kehilangan akses komunikasi seluler membuat warga merasa kembali ke masa lalu. “Kami berharap sinyal Telkomsel Bakti bisa diaktifkan kembali. Waktu itu sangat membantu masyarakat,” harapnya.

Bagi masyarakat di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) ini, kehadiran listrik, sinyal, dan akses jalan darat bukan sekadar keinginan untuk bergaya hidup modern. Keduanya adalah simbol kehadiran negara di garis depan perbatasan. “Harapan utama kami listrik dan sinyal bisa segera masuk dan stabil. Itu akan membawa dampak besar untuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat,” tegas Mastaryo menutup pembicaraan. (*)

Editor : Indra Zakaria