TARAKAN – Antusiasme pemudik di Pelabuhan Tarakan mulai menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan menjelang hari raya Idulfitri 1447 Hijriah. Dilaporkan bahwa tiket kapal untuk keberangkatan H-3 Lebaran, tepatnya pada 16 Maret 2026, kini telah habis terjual. Fenomena ini menandakan tingginya mobilitas masyarakat yang memilih untuk pulang kampung lebih awal demi menghindari kepadatan yang biasanya memuncak mendekati hari H.
Pola pembelian tiket tahun ini tercatat jauh lebih cepat dibandingkan hari-hari biasa. Banyak calon penumpang yang nampaknya enggan mengambil risiko kehabisan kursi, sehingga mereka mengamankan tiket sejak jauh hari. Dengan ludesnya kuota untuk jadwal favorit tersebut, pihak otoritas pelayaran mengingatkan keras agar masyarakat tidak tergiur membeli tiket melalui jalur tidak resmi. Praktik percaloan atau penawaran tiket di luar sistem resmi sangat berpotensi merugikan penumpang, baik dari sisi harga yang melambung tinggi maupun ketidakpastian keberangkatan.
Saat ini, sistem penjualan tiket telah terintegrasi secara daring dan transparan melalui aplikasi resmi seperti Pelni Mobile maupun agen perjalanan mitra. Keunggulan sistem ini adalah otomatisasi kursi; jika ada penumpang yang membatalkan pesanan, kursi tersebut akan langsung muncul kembali di sistem dan dapat dibeli oleh masyarakat lain secara adil. Hal ini dilakukan untuk memperkecil ruang gerak para spekulan tiket atau calo yang sering memanfaatkan situasi saat permintaan sedang tinggi. Masyarakat pun diimbau untuk selalu waspada dan tetap menggunakan jalur resmi agar hak-hak mereka sebagai penumpang tetap terlindungi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Di sisi lain, harapan masyarakat mengenai pembukaan rute langsung Tarakan–Surabaya tampaknya masih harus tertunda. Hingga saat ini, pola trayek masih mengikuti ketetapan kantor pusat dan Kementerian Perhubungan. Keterbatasan jumlah armada menjadi alasan utama mengapa rute langsung tersebut belum bisa diwujudkan. Jika rute dipaksakan memanjang hingga ke Surabaya, dikhawatirkan waktu tempuh kapal akan semakin lama dan justru mengganggu frekuensi kunjungan kapal ke Tarakan yang selama ini sudah berjalan stabil.
Sebagai solusi atas kebutuhan perjalanan ke Jawa Timur, skema transit di Balikpapan tetap menjadi pilihan utama. Penumpang dari Tarakan dapat menggunakan KM Lambelu atau KM Bukit Siguntang menuju Balikpapan, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Surabaya dengan kapal lanjutan yang jadwalnya telah disesuaikan. Meski membutuhkan waktu perjalanan yang sedikit lebih panjang, pola koneksi ini dinilai masih cukup efektif dalam menjaga kesinambungan pelayanan transportasi laut di wilayah Kalimantan Utara. (*)
Editor : Indra Zakaria