Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Sidak Pasar Tarakan: Harga Beras Premium Tembus Rp17 Ribu, Biaya Buruh Jadi Pemicu

Redaksi Prokal • 2026-02-27 09:15:00

PENGAWASAN: Hasil pengecekan Tim Satgas Saber Pangan memastikan stok beras aman dan produk memiliki izin edar. (POLRES TARAKAN UNTUK HRK)
PENGAWASAN: Hasil pengecekan Tim Satgas Saber Pangan memastikan stok beras aman dan produk memiliki izin edar. (POLRES TARAKAN UNTUK HRK)

 

TARAKAN – Tim gabungan Satuan Tugas Sapu Bersih Pelanggaran Harga Pangan (Satgas Saber Pangan) Kota Tarakan melakukan pengawasan ketat terhadap distributor dan ritel modern untuk mengantisipasi lonjakan harga beras menjelang Ramadan dan Idulfitri. Langkah ini diambil guna memastikan kepatuhan pedagang terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET) serta menjamin kualitas beras yang beredar di tengah masyarakat.

Kanit Tipidter Polres Tarakan, Ipda Arief Riyadi Safei, menjelaskan bahwa pengawasan yang dilakukan pada Selasa lalu ini merupakan upaya preventif agar masyarakat tidak dirugikan oleh spekulasi harga. “Pengawasan ini untuk memastikan tidak ada pelanggaran harga maupun mutu pangan, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri saat permintaan masyarakat meningkat,” ujar Arief saat memberikan keterangan pada Rabu kemarin.

Dalam sidak tersebut, tim menemukan salah satu distributor yang sempat menjual beras di atas ketentuan pemerintah, namun kini telah melakukan penyesuaian harga. Arief menyebutkan bahwa distributor tersebut bahkan sempat menghentikan sementara penjualan beras premium dan medium karena kesulitan menyesuaikan harga beli dengan aturan HET. “Distributor akan berkomunikasi dengan Bulog agar dapat menjual beras SPHP sebagai solusinya,” tambahnya.

Selain memeriksa harga, tim dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Provinsi Kaltara juga mengambil sampel beras untuk dilakukan uji laboratorium guna memastikan kelayakan konsumsi. Arief menegaskan bahwa seluruh produk yang diperiksa saat ini sudah memiliki izin edar resmi, meskipun harga di pasaran masih bervariasi antara Rp15.000 hingga Rp17.600 per kilogram tergantung pada kategorinya.

Arief mengakui adanya tantangan dalam menekan harga beras di wilayah Kalimantan Utara karena tingginya biaya distribusi dan upah buruh angkut. Ia mencatat bahwa biaya buruh di Kaltara merupakan yang tertinggi kedua di Kalimantan setelah Balikpapan, yang secara otomatis berdampak pada harga jual akhir di konsumen. Meski demikian, ia menjamin bahwa alur distribusi dari luar daerah hingga saat ini masih berjalan lancar tanpa hambatan berarti.

Pihak kepolisian bersama instansi terkait berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan rutin guna menjaga stabilitas pasokan bahan pangan strategis di wilayah perbatasan. “Kami pastikan stok mencukupi dan distribusi lancar, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras selama Ramadan hingga Idulfitri,” tegas Arief menutup penjelasannya.(*)

Editor : Indra Zakaria