Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Inflasi Kaltara Tembus 4,75 Persen, Dipicu Lonjakan Tarif Listrik dan Harga Emas

Indra Zakaria • 2026-03-05 07:00:00

Berdasarkan kelompok pengeluaran, kenaikan signifikan secara tahunan terjadi pada kelompok perumahan salah satunya listrik yang melonjak 19,89 persen. (FAISAL/HRK)
Berdasarkan kelompok pengeluaran, kenaikan signifikan secara tahunan terjadi pada kelompok perumahan salah satunya listrik yang melonjak 19,89 persen. (FAISAL/HRK)

TANJUNG SELOR – Kondisi ekonomi Kalimantan Utara pada awal tahun 2026 menunjukkan tren peningkatan harga yang cukup signifikan. Berdasarkan laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, inflasi tahunan (year-on-year) pada Februari 2026 tercatat berada di angka 4,75 persen. Angka ini menandai kenaikan beban biaya hidup masyarakat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring dengan merangkaknya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 104,11 menjadi 109,06.

Kepala BPS Kaltara, Mustaqim, menjelaskan bahwa kenaikan harga ini terjadi hampir merata di sejumlah kelompok pengeluaran. Secara bulanan (month-to-month), Februari 2026 mengalami inflasi sebesar 0,47 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 0,57 persen. Faktor utama yang mendorong laju inflasi tahunan ini adalah lonjakan drastis pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencatatkan kenaikan hingga 19,89 persen.

Selain sektor energi dan utilitas, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan kontribusi besar dengan kenaikan 16,44 persen, disusul oleh sektor kesehatan yang naik 7,41 persen. Beberapa komoditas spesifik yang menjadi motor penggerak inflasi di antaranya adalah tarif listrik, emas perhiasan, tarif air minum PAM, biaya rumah sakit, hingga kebutuhan pokok seperti beras, ikan bandeng, bawang merah, dan telur ayam ras. Sebaliknya, penurunan harga pada sektor transportasi, pakaian, serta informasi dan jasa keuangan justru bertindak sebagai pengerem laju inflasi yang lebih dalam.

Secara khusus untuk fluktuasi harga bulanan, kenaikan harga emas perhiasan, cabai rawit, serta daging dan telur ayam ras menjadi pemicu utama inflasi di sepanjang Februari. Meski demikian, tekanan tersebut sedikit teredam oleh turunnya harga beberapa komoditas pangan seperti bayam, sawi hijau, dan ikan layang. BPS menilai dinamika harga di Kaltara saat ini masih sangat dipengaruhi oleh faktor stabilitas pasokan serta kebijakan tarif, terutama pada sektor energi yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.(*)

Editor : Indra Zakaria