TANJUNG SELOR – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang membayangi sebagian besar wilayah Indonesia sepanjang Maret 2026. Berdasarkan catatan terbaru, sejumlah daerah bahkan telah mengalami hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem, yang dipicu oleh dinamika atmosfer yang sangat aktif di wilayah khatulistiwa.
Kepala Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, mengungkapkan bahwa wilayah Papua Barat mencatatkan curah hujan tertinggi mencapai 133,2 milimeter (mm) per hari, yang masuk dalam kategori ekstrem. Tak hanya di wilayah timur, guyuran hujan lebat juga terpantau melanda Yogyakarta, Surabaya, hingga Maluku Utara dengan intensitas yang bervariasi antara 57 hingga 79 mm per hari.
"Peningkatan curah hujan ini dipicu oleh kombinasi beberapa faktor atmosfer, mulai dari keberadaan Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia hingga pertemuan angin monsun utara dengan angin baratan," jelas Sulam kepada Radar Kaltara. Ia menambahkan bahwa aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) di wilayah Maritime Continent turut memperkuat pertumbuhan awan hujan yang masif.
Kondisi ini diprediksi masih akan berlanjut dalam sepekan ke depan. Secara global, fenomena La Niña dengan kategori lemah juga masih terdeteksi, yang secara konsisten meningkatkan potensi pembentukan awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur. Selain itu, munculnya sistem tekanan rendah di Samudra Pasifik utara Papua dan pesisir Australia membentuk daerah konvergensi yang mendukung cuaca buruk di sekitar wilayah tersebut.
Mengingat tingginya aktivitas gelombang atmosfer seperti Gelombang Kelvin dan Rossby, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor. Masyarakat diminta untuk lebih berhati-hati saat merencanakan perjalanan darat, laut, maupun udara, serta selalu memperbarui informasi cuaca sebelum melakukan aktivitas luar ruangan di tengah ketidakpastian kondisi atmosfer saat ini. (*)
Editor : Indra Zakaria