Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kemana Lagi Kami Mengadu?" Jeritan Warga Krayan Hadapi Jalanan yang Menyerupai Kubangan

Redaksi Prokal • 2026-03-14 12:10:00

MIRIS : Kondisi jalan penghubung antara kecamatan di dataran tinggi Krayan rusak parah dan sulit dilalui kendaraan.
MIRIS : Kondisi jalan penghubung antara kecamatan di dataran tinggi Krayan rusak parah dan sulit dilalui kendaraan.

NUNUKAN – Kondisi infrastruktur di dataran tinggi Krayan, wilayah perbatasan yang dikenal sebagai penghasil beras Adan, kian mencapai titik nadir. Ruas jalan yang menghubungkan antar kecamatan, khususnya jalur Lembudud (Krayan Barat) menuju Long Layu (Krayan Selatan), kini rusak parah dan hampir mustahil dilalui kendaraan secara normal.

Pemandangan miris terlihat saat kendaraan-kendaraan yang melintas terjebak dalam kubangan lumpur sedalam mesin, memaksa para pengendara saling bantu menarik kendaraan agar bisa terus bergerak.

Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli, meluapkan keprihatinannya atas situasi yang kian tak terkendali ini pada Jumat (13/3/2026). Ia memaparkan bahwa perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu 1 hingga 2 jam, kini bisa membengkak hingga lebih dari 12 jam jika mobil amblas di tengah jalan. Menurutnya, kondisi ini bukan sekadar hambatan transportasi, melainkan musibah bagi mobilitas warga di wilayah terpencil.

Kecewa dengan minimnya perhatian pemerintah, sejumlah pengendara bahkan melakukan aksi protes dengan menanam pohon di tengah badan jalan yang rusak. Aksi ini menjadi simbol keputusasaan masyarakat atas jalanan yang telah belasan tahun dibangun namun tak kunjung mendapatkan peningkatan kualitas. Oktavianus menyebut selama ini perbaikan hanya dilakukan ala kadarnya, atau dalam istilah lokal hanya "disapu saja", sehingga ketika hujan turun selama dua hari, jalanan yang berbahan tanah biasa itu langsung kembali hancur.

Upaya koordinasi pun sebenarnya telah dilakukan pihak kecamatan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara. Namun sayangnya, hingga saat ini belum ada respons nyata dari pihak terkait. Oktavianus mengaku telah mencoba menghubungi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kaltara untuk melaporkan kondisi darurat ini, tetapi tetap tidak mendapatkan tanggapan yang diharapkan.

Ketidakpastian ini memicu pertanyaan getir dari sang Camat: "Ke mana lagi kami harus mengadu?". Tanpa adanya langkah konkret untuk melakukan pengerasan atau peningkatan badan jalan secara permanen, warga Krayan akan terus terisolasi dalam kubangan lumpur, sementara denyut ekonomi dan pelayanan publik di wilayah perbatasan semakin tercekik oleh infrastruktur yang mati suri. (*)

Editor : Indra Zakaria