TARAKAN – Ambisi menjadikan Bandara Internasional Juwata Tarakan sebagai gerbang utama konektivitas internasional di Kalimantan Utara (Kaltara) terus diperkuat. Saat ini, sejumlah maskapai penerbangan mulai melirik peluang untuk membuka rute luar negeri dari bumi "Paguntaka", meskipun realisasinya masih harus melewati berbagai analisis perhitungan bisnis yang matang.
Kepala Bandara Juwata Tarakan, Bambang Hartato, mengungkapkan bahwa pihaknya bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan terus bergerak menjajaki kerja sama dengan berbagai maskapai. Fokus utamanya adalah menghadirkan penerbangan internasional reguler yang dapat mendukung mobilitas warga dan pertumbuhan ekonomi regional.
Salah satu rute yang dinilai paling realistis dan memiliki potensi pasar tinggi dalam waktu dekat adalah rute Tarakan–Tawau. Kedekatan geografis serta tingginya intensitas pergerakan masyarakat antara Indonesia dan Malaysia di wilayah perbatasan menjadi alasan utama rute ini sangat diminati.
"Maskapai seperti AirAsia telah beberapa kali melakukan audiensi dengan kami. Selain itu, Susi Air juga menyatakan minat serius untuk menggarap rute Tarakan–Tawau. Saat ini, Susi Air masih dalam proses pengurusan perizinan foreign AOC sebagai syarat operasional penerbangan internasional," jelas Bambang, Selasa (24/3).
Tidak hanya menyasar sektor penumpang, Bandara Juwata juga mulai melirik potensi bisnis kargo internasional. Komunikasi telah dijalin dengan perusahaan logistik seperti MyIndo yang tertarik membuka jalur pengiriman langsung ke China. Sementara untuk sektor penumpang ke Negeri Tirai Bambu tersebut, maskapai TransNusa disebut-sebut tengah melihat peluang yang ada. Selain itu, penjajakan juga terus dilakukan dengan Trigana Air dan Lion Group untuk memperkuat jaringan konektivitas luar negeri.
Namun demikian, Bambang mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini terletak pada aspek business-to-business (B2B). Maskapai penerbangan tentu memiliki hitungan yang sangat ketat terkait tingkat keterisian penumpang (load factor), keberlanjutan rute, hingga kesiapan mitra operasional di negara tujuan.
"Hambatan utamanya masih pada perhitungan bisnis. Maskapai tentu berhitung soal potensi pasar dan seberapa berkelanjutan rute tersebut nantinya," tambahnya.
Meski menghadapi tantangan tersebut, optimisme tetap terjaga mengingat posisi strategis Tarakan sebagai beranda depan Indonesia. Jika rute-rute internasional ini terealisasi, dampaknya diyakini akan sangat signifikan bagi Kaltara—mulai dari percepatan distribusi logistik, peningkatan sektor perdagangan, hingga geliat pariwisata dan investasi.
"Jika ini terwujud, masyarakat tidak perlu lagi transit ke kota lain untuk terbang ke luar negeri. Ini akan sangat memudahkan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi kita semua," pungkas Bambang optimis. (*)
Editor : Indra Zakaria