Duka Mahasiswa KKN Jadi Alarm Keras! Akademisi ULM Desak Pemerintah Benahi Total 'Jalur Maut' Batulicin–Banjarbaru

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 13:30 WIB
Kondisi Jalan Alternatif Batulicin–Banjarbaru di Desa Gunung Raya, Kecamatan Mantewe, yang memiliki kontur tanjakan, turunan, dan tikungan.
Kondisi Jalan Alternatif Batulicin–Banjarbaru di Desa Gunung Raya, Kecamatan Mantewe, yang memiliki kontur tanjakan, turunan, dan tikungan.

BATULICIN — Tragedi memilukan yang merenggut nyawa lima mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam kecelakaan maut di Jalan Alternatif Batulicin–Banjarbaru menyentak perhatian publik. Peristiwa berdarah yang melibatkan mobil tangki dan pikap di Desa Gunung Raya, Kecamatan Mantewe, tersebut menjadi puncak dari rangkaian insiden mengerikan yang dalam sepekan terakhir telah menelan sedikitnya delapan korban jiwa.

Sebelum tragedi pikap KKN tersebut pecah, jalur yang sama telah menelan korban jiwa ketika sebuah mobil SUV diduga hilang kendali hingga menghantam kendaraan lain, disusul insiden kecelakaan beruntun yang merusakkan beberapa unit mobil dalam kurun waktu berdekatan. Rentetan kecelakaan maut di koridor ini membuktikan bahwa risiko bahaya di lintasan tersebut sudah berada pada taraf yang sangat mengkhawatirkan.

Menanggapi duka yang terus berulang, akademisi dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Akbar Rahman, menegaskan bahwa jatuhnya korban jiwa tidak bisa lagi semata-mata ditumpahkan sebagai kesalahan atau kelalaian pengemudi di lapangan. Dosen Fakultas Teknik ULM tersebut menilai bahwa ketika kecelakaan fatal terjadi berkali-kali di lokasi yang sama, pemerintah bersama pihak terkait wajib melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan dan kondisi fisik infrastruktur jalan.

Menurut analisisnya, Jalan Alternatif Banjarbaru–Batulicin memiliki karakteristik medan yang sangat ekstrem karena memadukan tanjakan terjal, turunan curam, dan tikungan tajam dalam jarak yang amat berdekatan. Kondisi ini kian mematikan karena jarak pandang pengemudi sering kali terhalang secara mendadak begitu melewati puncak tanjakan, menjadi jebakan fatal terutama bagi para pengendara yang belum mengenali lekuk medan dengan baik.

Mendesak Konsep Forgiving Road dan Audit Keselamatan

Guna meminimalkan dampak buruk dari kesalahan manusia saat berkendara, Akbar menawarkan solusi melalui penerapan konsep forgiving road. Konsep perancangan ini berfokus pada penyempurnaan geometri jalan agar lebih ramah keselamatan, mulai dari perbaikan sudut kemiringan, pemasangan guardrail pengaman di titik rawan jurang, penambahan marka jalan berdaya pantul tinggi, hingga pemasangan rumble strip atau pita pengatur kecepatan sebelum memasuki tikungan berbahaya.

Di samping pembenahan teknis fisik, ia juga mendesak pemerintah untuk segera menggelar Road Safety Audit atau Audit Keselamatan Jalan secara menyeluruh di sepanjang lintasan tersebut. Audit ini penting untuk memetakan titik-titik rawan, memeriksa kelayakan aspal, serta menata ulang pola lalu lintas kendaraan berat bermuatan besar yang setiap hari ikut melintasi jalur alternatif tersebut.

Kendati pembenahan infrastruktur dari pihak pemerintah menjadi tuntutan utama, kedisiplinan dari para pengguna jalan tetap menjadi benteng pertahanan terakhir. Para pengendara diimbau keras untuk senantiasa menahan diri, tidak memacu kendaraan melebihi batas kecepatan di medan bergelombang, serta menjaga konsentrasi penuh agar duka serupa tidak kembali terulang di masa depan. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : Radar Banjarmasin
kalsel