BANJARBARU – Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melumpuhkan aktivitas warga di kawasan Landasan Ulin hingga Banjarbaru Kota. Selain memicu bahaya lalu lintas, paparan asap pekat ini mulai menumbangkan pengendara jalan dan mengacaukan jam belajar siswa di sekolah.
Kondisi paling parah menimpa kawasan Pengayuan, Landasan Ulin Selatan, pada pagi hari sekitar pukul 05.30 WITA. Jarak pandang yang menyusut hingga tersisa dua meter memaksa arus lalu lintas berhenti total.
"Pengendara banyak yang berhenti, tidak bisa melanjutkan perjalanan. Bahkan ada beberapa orang yang sampai mengalami sesak napas akibat menghirup asap tebal ini," ujar Hendra, Ketua RT 02 Pengayuan.
Melihat kondisi darurat tersebut, warga setempat bersama relawan langsung mengevakuasi sejumlah pengendara yang bertumbangan ke langgar terdekat untuk diberikan pertolongan pertama.
Kepulan asap pekat yang bersumber dari sisa titik api karhutla ini turut mengganggu aktivitas pendidikan. Di wilayah Liang Anggang dan Landasan Ulin, sejumlah murid terpaksa berangkat lebih siang demi menunggu kabut asap menipis. Dampak lingkungan ini dirasakan langsung oleh Dadanmaja, salah satu wali murid SDN 1 Syamsudin Noor.
"Pagi ini asap terasa sangat pekat, mata mulai perih, dan bau sangit kebakaran sangat menyengat," tutur Dadan yang baru pertama kali merasakan dampak parah karhutla di Kalimantan.
Ia menyebutkan bahwa jarak pandang di jalan raya Landasan Ulin merosot tajam hingga 5–10 meter. Ia meminta pengendara ekstra hati-hati dan mendesak pemerintah serta tim gabungan bergerak lebih cepat.
"Pemerintah, BPBD, dan Tim SAR harus segera mengambil langkah konkret menuntaskan permasalahan karhutla ini agar dampak kesehatan anak-anak sekolah dan masyarakat tidak semakin memburuk," tegas Dadan. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co