MARTAPURA — Dampak musim kemarau di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, kian meluas dan memprihatinkan. Hingga saat ini, krisis air bersih telah menjangkau 45 desa yang tersebar di 13 kecamatan. Kondisi tak sekadar dipicu oleh menyusutnya ketersediaan air tawar, tetapi juga memburuknya kualitas air di kawasan pesisir yang berubah menjadi asin dan masam.
Merujuk data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar, penyaluran air bersih skala besar terus digelontorkan untuk menyambung hidup masyarakat terdampak. Total sebanyak 1,52 juta liter air telah didistribusikan ke ribuan warga, didukung dengan peminjaman 124 unit tandon guna memudahkan penyimpanan air di titik-titik krisis.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha, menjelaskan bahwa pergerakan armada air bersih telah berlangsung secara konstan dalam kurun waktu lebih dari satu bulan terakhir.
"Kita ada 13 kecamatan dan 45 desa yang mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Itu yang disuplai air bersihnya ke titik desa yang sedang krisis air bersih. Itu sudah berjalan satu bulan lebih," terang Wasis.
Kawasan pesisir seperti Kecamatan Beruntung Baru, Aluh-Aluh, hingga Cintapuri menjadi wilayah yang mendapat perhatian ekstra. Penurunan debit sungai yang signifikan membuat intrusi air laut makin menguat, memicu pengasinan dan peningkatan kadar asam pada sumber air baku warga. Bahkan, pasokan irigasi utama dari Riam Kanan dilaporkan turut mengalami penurunan debit air yang mengkhawatirkan.
"Untuk titik-titik pesisir itu sudah minim dan masam lagi, seperti di Beruntung Baru, Aluh-Aluh yang dekat dengan laut. Belum lagi di Cintapuri," tambah Wasis.
Mengingat status Siaga Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan masih diberlakukan hingga 30 September 2026, BPBD mengimbau masyarakat untuk ekstra hemat dalam menggunakan pasokan air yang ada.
"Imbauan kita, sebijak mungkin penggunaan air dengan kondisi seperti ini. Kita tahu debit air sungai sudah susut, irigasi Riam Kanan juga sudah susut. Kita tidak tahu kemarau panjang sampai kapan, jadi penggunaan air harus seefisiensi mungkin," pungkasnya. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co