Kabut Asap Karhutla, 273 Sekolah di Banjar Ubah Jam Masuk hingga Terapkan Belajar dari Rumah

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:26 WIB
TIDAK SEHAT: Kabut asap menyelimuti kawasan Martapura, Kabupaten Banjar, hingga mengurangi jarak pandang pengguna jalan. (FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
TIDAK SEHAT: Kabut asap menyelimuti kawasan Martapura, Kabupaten Banjar, hingga mengurangi jarak pandang pengguna jalan. (FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)

 
MARTAPURA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu pekatnya kabut asap mulai melumpuhkan aktivitas belajar mengajar di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Hingga Senin (31/8/2026), tercatat sebanyak 273 satuan pendidikan resmi mengajukan penyesuaian moda pembelajaran kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Banjar guna melindungi para siswa dari bahaya ISPA.

Dari ratusan sekolah tersebut, sekitar 150 sekolah yang berada di zona terdampak paling parah sudah beralih total ke sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Sementara sekolah sisanya memilih langkah fleksibel dengan menggeser jam masuk menjadi pukul 09.00 WITA atau tetap menyelenggarakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas, disesuaikan dengan tingkat kepekatan asap di wilayah masing-masing.

Kepala Disdik Kabupaten Banjar, Liana Penny, menjelaskan bahwa kebijakan pembelajaran di tengah tanggap darurat ini tidak diseragamkan karena paparan asap berbeda di tiap wilayah. Pihak sekolah diberikan wewenang penuh untuk mengambil opsi terbaik—cukup dengan persetujuan komite sekolah dan pelaporan ke dinas—tanpa perlu mekanisme birokrasi yang rumit.

Beberapa kecamatan seperti Gambut, Kertak Hanyar, Sungai Tabuk, dan Cintapuri mendominasi penerapan belajar daring penuh akibat kepungan asap tebal. Sebaliknya, wilayah Martapura yang fluktuasi udaranya cenderung sedang lebih banyak memilih memundurkan jam masuk sekolah hingga kabut asap mengurai pada pagi hari.

Kondisi udara di Kabupaten Banjar memang menunjukkan penurunan kualitas yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Dinas Lingkungan Hidup Kalsel, kualitas udara sempat menembus angka 213 dengan kategori sangat tidak sehat. Wilayah Gambut dan Martapura Barat menjadi titik paling terdampak, terutama pada rentang jam rawan pukul 06.00 hingga 09.30 WITA.

Terkait dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Disdik meminta jajaran sekolah yang menerapkan PJJ untuk berkoordinasi secara aktif dengan pihak pengelola dapur MBG. Penyesuaian distribusi makanan akan diselaraskan dengan kondisi darurat agar pelayanan gizi siswa tetap aman dan efisien.

Liana menegaskan bahwa penerapan PJJ maupun penggeseran jam masuk ini bukan berarti meliburkan siswa, melainkan mengalihkan moda belajar demi keselamatan bersama. Menyesuaikan dengan edaran Kemendikdasmen mengenai Protokol Pembelajaran Darurat, Disdik Banjar mengimbau sekolah untuk tidak memaksakan PTM jika kondisi udara di lingkungan sekitar dinilai membahayakan kesehatan siswa maupun guru. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kalsel