Hantaman Intrusi Air Laut dan Penyakit Tungro Bikin Petani Padidi Kalsel Gigit Jari

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 11:46 WIB
ilustrasi padi
ilustrasi padi

MARTAPURA — Harapan para petani di Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, untuk mendulang untung dari hasil panen padi tahun ini sirnah. Lahan persawahan warga terendam intrusi air laut yang datang lebih cepat dari perkiraan, disusul ancaman penyakit tanaman yang membuat produksi padi merosot tajam.

Kondisi ini membuat tanaman padi mati muda saat belum sempat mengisi bulir, hingga menyebabkan bulir padi menjadi hampa.  Camat Aluh-Aluh, Aditya Yudi Dharma, mengungkapkan bahwa fenomena kedatangan air asin tahun ini sangat di luar kebiasaan dan mengejutkan para petani lokal.

"Baru tahun ini masin (asin) benar. Jadi terkejut juga, benih orang yang belum berisi, begitu dihantam air asin, langsung kosong (hampa)," ujar Aditya, Kamis (3/9/2026).

Aditya menjelaskan, wilayah Aluh-Aluh mengandalkan sistem pertanian pasang surut sehingga tidak terdampak kekeringan atau tanah retak saat musim kemarau. Normalnya, air laut baru masuk ke persawahan setelah masa panen usai dan bermanfaat menetralkan asam tanah. Namun, tingginya tingkat salinitas air pasang yang datang terlalu awal membuat perhitungan petani meleset.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita, membeberkan bahwa keterpurukan sektor pertanian di Aluh-Aluh tak hanya dipicu oleh air asin, melainkan juga serangan virus tungro yang merusak fase pertumbuhan tanaman.

“Kalau di Aluh-Aluh itu, kemungkinan karena air asin kemungkinan memang ada. Namun, laporan yang masuk ke kami gagal panennya karena tungro,” ungkap Warsita.

Serangan penyakit dan gempuran air asin ini berdampak fatal pada ekonomi warga. Satu musim gagal panen berpotensi memutus sumber pendapatan keluarga petani sekaligus menghabiskan modal untuk musim tanam berikutnya.

Merespons krisis ini, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar mulai memperkuat langkah penanganan melalui pemantauan intensif di lapangan, pendampingan pola tanam, serta tindakan pencegahan dini agar kerugian petani tidak makin meluas. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kabupaten banjar