Kabut abu-abu pekat menggantung rendah, membuat sinar matahari pagi nyaris tak mampu menembus angkasa Kabupaten Tabalong. Sepanjang akhir pekan lalu, jalanan utama di kawasan ini tampak lengang, nyaris kosong melompong. Sebagian besar warga memilih berdiam diri di balik pintu rumah, sementara aktivitas belajar di sekolah-sekolah terpaksa dihentikan lebih cepat demi menyelamatkan anak-anak dari ancaman udara beracun.
Belum sempat pulih dari ketegangan tersebut, ancaman serupa bergeser dan menghantam kabupaten tetangga. Tepat pada Senin (12/10) pagi, ketika denyut nadi ekonomi mulai berdetak dan ribuan orang bersiap berangkat bekerja, kualitas udara di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, justru merosot tajam ke titik yang mengkhawatirkan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan secara resmi merilis Peringatan Dini Kualitas Udara setelah memantau lonjakan drastis konsentrasi partikulat halus (PM
2.5
) di wilayah berjuluk Bumi Sanggam itu.
Kepala Pelaksana BPBD Balangan, Rahmi, menuturkan bahwa pemantauan Stasiun Klimatologi sejak tengah malam menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Namun, situasi terburuk justru terjadi pada jam-jam produktif masyarakat memulai aktivitas harian.
"Pada rentang pukul 07.00 hingga 08.00 WITA, grafik menunjukkan konsentrasi tertinggi mencapai angka 158,4 mikrogram per meter kubik. Angka ini secara otomatis menetapkan kualitas udara kita pada kategori 'Sangat Tidak Sehat'," ungkap Rahmi, Senin (12/10).
Melihat data polusi yang kian mencekik, BPBD tak tinggal diam. Rahmi segera menyerukan imbauan darurat kepada masyarakat luas agar membatasi aktivitas di luar ruangan, khususnya pada jam-jam dengan paparan kabut asap terpekat.
Bagi warga yang memiliki mobilitas tinggi dan terpaksa harus keluar rumah, ia mengingatkan agar tidak lagi mengandalkan masker kain biasa. Perlindungan maksimal mutlak diperlukan untuk menyaring partikel debu mikroskopis yang mengancam saluran pernapasan.
"Gunakanlah masker berstandar N95 atau KN95 yang terbukti efektif menyaring partikel debu halus. Selain itu, perkuat imun tubuh dengan menjaga pola hidup sehat," tegasnya.
Di balik darurat kesehatan yang melanda Balangan dan Tabalong, bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan masih menyisakan pertempuran sengit di lini depan. Tim gabungan, termasuk Manggala Agni Kementerian Kehutanan, hingga kini terus berjibaku memadamkan titik-titik api di tengah medan berat, tantangan akses yang sulit, hingga ancaman krisis air bersih.
Menutup keterangannya, Rahmi menyampaikan pesan mendasar yang menjadi kunci utama penyelesaian masalah ini. Ia mendesak seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar, sebab udara pekat yang dihirup hari ini merupakan cerminan langsung dari tindakan tersebut. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co