Titik Panas di Kalsel Menurun, Patroli Udara Masih Temukan 21 Titik Karhutla Seluas 41 Hektare

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Kamis, 22 Oktober 2026 | 09:33 WIB
Petugas melakukan patroli udara untuk memantau titik panas dan mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan. (Tangkap layar Sekretariat Kabinet Republik Indonesia)
Petugas melakukan patroli udara untuk memantau titik panas dan mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan. (Tangkap layar Sekretariat Kabinet Republik Indonesia)

BANJARMASIN – Jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan Selatan menunjukkan tren penurunan. Kendati demikian, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum sepenuhnya mereda dari bumi Tambun Bungai tersebut.

Berdasarkan hasil pemantauan patroli udara pada Rabu (21/10/2026), petugas masih mendeteksi sebanyak 21 titik panas dengan estimasi total luas area terdampak mencapai 41,3 hektare. Angka ini sebetulnya melandai jika dibandingkan dengan laporan Kementerian Kehutanan pada Senin (19/10/2026) malam yang sempat mencatat hingga 40 titik panas.

Rincian pembaruan data patroli udara hingga pukul 13.42 WITA mencatat pesawat PK-SNK menemukan 16 titik panas dengan estimasi luas lahan terdampak 17,8 hektare. Sementara itu, pesawat PK-RTQ mendeteksi lima titik panas lainnya dengan estimasi luas 23,5 hektare. Dalam laporan resmi patroli, seluruh titik tersebut dinyatakan masih berstatus ongoing atau dalam penanganan petugas.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Ronny Eka Saputra, mengungkapkan bahwa penurunan jumlah titik panas dipengaruhi oleh kondisi cuaca serta kerja keras tim gabungan di lapangan. Sinergi yang kuat antara satgas darat dan satgas udara dinilai memegang peranan krusial dalam menekan penyebaran api agar tidak meluas.

Selain intervensi langsung di lapangan, pengendalian karhutla juga diperkuat melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sepanjang tahun 2026, OMC dilaksanakan dalam empat gelombang, dimulai dari fase pertama pada pertengahan Juli, dilanjutkan fase kedua dan ketiga sepanjang September, hingga fase keempat yang berlangsung sejak 10 hingga 30 Oktober 2026.

Meski jumlah titik panas berangsur berkurang, kondisi kualitas udara tetap menjadi perhatian serius. Ronny mengingatkan bahwa tingkat ketebalan dan sebaran asap tidak hanya bergantung pada jumlah titik panas, melainkan sangat dipengaruhi oleh kecepatan serta arah angin di atmosfer. Apabila pergerakan angin tergolong lemah, proses penguraian asap di udara akan berlangsung lebih lambat.

Oleh sebab itu, melandainya jumlah titik panas tidak serta-merta menjamin kualitas udara langsung membaik secara instan. BPBD Kalsel bersama seluruh jajaran Satgas Karhutla memastikan pemantauan atmosfer serta penanggulangan di titik-titik rawan akan terus digencarkan hingga situasi benar-benar aman dan kondusif. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kalsel