BANJARMASIN – Kabar duka menyelimuti barisan relawan pemadam kebakaran (damkar) di Kota Banjarmasin. Nordin (50), seorang anggota Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) Kayu Bulan (KBL), meninggal dunia usai bertugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Rabu (21/10/2026).
Nordin sempat mengeluhkan sesak napas berat dan nyeri dada di tengah lokasi pemadaman. Kondisinya yang kian memburuk membuat rekan-rekannya panik hingga akhirnya ia mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan menuju Klinik Setara, Handil Bakti.
Iskandar (53), relawan Damkar Sarimi yang bertugas bersama korban, menceritakan bahwa Nordin berangkat bersama rombongan dari kawasan Sungai Andai menuju lokasi karhutla sekitar pukul 13.00 WITA. "Korban turun langsung ke lapangan untuk memadamkan api bersama beberapa rekan lainnya. Kurang lebih satu jam bekerja di tengah kepulan asap, korban mengeluh sesak napas dan sakit di bagian dada," tutur Iskandar.
Meskipun sempat diistirahatkan dan diberi air minum, kondisi Nordin terus merosot tajam. Melihat korban mengalami kesulitan bernapas hingga kejang-kejang saat dievakuasi, rekan-rekan relawan bergegas membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat. Namun, takdir berkata lain; Nordin dinyatakan meninggal dunia sebelum sempat tiba di klinik.
Kepala Klinik Setara, dr. Amalia Dewi, mengonfirmasi bahwa saat pasien tiba di klinik, tim medis langsung memberikan pertolongan darurat. Namun, pemeriksaan awal menunjukkan pupil mata pasien sudah mengalami pelebaran (midriasis) yang menandakan tanda kematian.
"Meski demikian, tim medis tetap melakukan tindakan resusitasi jantung paru (RJP) sebanyak dua kali serta pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) untuk memastikan aktivitas listrik jantung. Namun tidak ada respons sama sekali," terang dr. Amalia. dr. Amalia menyoroti besarnya risiko yang dihadapi para relawan, terutama terkait paparan asap pekat di garis depan pemadaman. Menurutnya, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pernapasan yang memadai sangat krusial dalam tugas berisiko tinggi seperti ini. "Kasihan relawan kita. Saat bekerja di lokasi karhutla, seharusnya menggunakan alat pelindung pernapasan yang sesuai standar, bukan sekadar masker biasa. Paparan asap pekat sangat berbahaya bagi organ pernapasan dan jantung," tegasnya. Tragedi ini langsung menyita perhatian Pemerintah Kabupaten Barito Kuala. Bupati Batola, Bahrul Ilmi, hadir secara langsung di Klinik Setara untuk menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas gugurnya pahlawan kemanusiaan tersebut.
Ia mengingatkan seluruh relawan dan petugas lapangan agar senantiasa mengutamakan keselamatan diri di atas segalanya saat berhadapan dengan keganasan api dan asap karhutla.
"Relawan damkar harus lebih berhati-hati dan selalu mengutamakan keselamatan diri saat bertugas. Jangan sampai musibah seperti ini kembali terjadi hingga menimbulkan korban jiwa," pesan Bahrul.
Bahrul menegaskan bahwa penanganan karhutla di wilayah Barito Kuala masih menjadi perhatian serius dan membutuhkan sinergi kuat dari semua pihak agar bencana ini bisa segera dikendalikan tanpa menelan korban lagi. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co