Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Potret Pilu Perbatasan: Mobil Jenazah Amblas 3 Jam di Jalan Rusak Krayan

Redaksi Prokal • Jumat, 9 Januari 2026 | 10:45 WIB
PERBATASAN: Perjuangan warga Krayan untuk melintasi jalan di wilayah Krayan. (ISTIMEWA)
PERBATASAN: Perjuangan warga Krayan untuk melintasi jalan di wilayah Krayan. (ISTIMEWA)

 

TANJUNG SELOR – Sebuah video singkat berdurasi 0,28 menit menjadi saksi bisu betapa pahitnya realitas pembangunan di wilayah perbatasan Kalimantan Utara. Video tersebut memperlihatkan perjuangan sejumlah warga yang bahu-membahu mendorong mobil double gardan yang terjebak di tengah kubangan lumpur. Mirisnya, kendaraan yang amblas tersebut sedang mengangkut jenazah seorang tokoh perintis pendidikan di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan.

Jenazah tersebut diketahui merupakan guru senior yang telah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan di Desa Long Rungan, Kecamatan Krayan Tengah. Perjalanan terakhir sang guru menuju tempat peristirahatan terakhirnya harus terhambat oleh kondisi jalan yang nyaris tak layak dilalui. Setelah diterbangkan dari Tarakan menuju Bandara Binuang pada awal Januari lalu, iring-iringan jenazah justru tertahan selama kurang lebih tiga jam akibat mobil pengangkut yang tak berdaya menembus jalur yang rusak parah.

Tokoh masyarakat Krayan, Marli Kamis, mengungkapkan rasa keprihatinan yang mendalam atas kejadian ini. Menurutnya, akses jalan yang menjadi lokasi amblasnya mobil tersebut merupakan jalan provinsi yang seharusnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara. Ia menyayangkan bagaimana seorang pejuang pendidikan yang selama hidupnya sudah merasakan sulitnya akses di perbatasan, masih harus "menderita" dalam perjalanan wafatnya akibat infrastruktur yang terabaikan.

Aksi saling dorong oleh warga Desa Binuang dan Desa Long Padi untuk membebaskan mobil jenazah tersebut menjadi gambaran nyata bahwa pembangunan di provinsi ke-34 Indonesia ini belum menyentuh kebutuhan dasar di lini terdepan. Marli menegaskan bahwa kondisi ini bukan lagi sekadar hambatan transportasi, melainkan persoalan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian mendesak dari pemerintah. (*)

Editor : Indra Zakaria